Cerita Covid


Rabu, 10 Maret 2021. Hari berjalan seperti biasa. Kerja seperti biasa. Sedikit happy karena tau Jumat libur dan Selasa udah ngerencanain cuti. Pulang kerja, mandi. Sesuai jadwal hari itu saya tambahkan Dettol ke ember. Dengan wangi dettol yang cukup menyengat, seharusnya saya sadar udah ada yang aneh, tapi saya masih belum sadar. Selesai mandi saya memakai minyak wangi. Di titik itu baru saya sadar ada yang aneh, kok minyak wangi sama sekali gak kecium. Masih berpikir positif, saya coba semprot lagi minyak wangi ke tangan dan nyoba nyium, gak kecium juga. Perasaan udah panik sekaligus pasrah. Saya coba nyium kayu putih, yang wanginya lumayan nyengat. Hasilnya sudah bisa ditebak, gak kecium sama sekali.

Saya sendiri di rumah waktu itu, karena kebetulan istri pulang telat. Saya kabari dia kronologisnya. Dia mencoba menenangkan dan mengirim link-link berita yang menyatakan bahwa gak semua yang ilang penciuman itu Covid. Walaupun belakangan dia cerita pas pertama kali dia dapet Whatsapp itu udah yakin itu Covid. Dasar, Maemunah. Malamnya, kami berdiskusi, mau langsung rapid test apa nunggu dulu sehari siapa tahu efek dari pilek yang saya alami pada hari jumat sebelumnya. Pasrah tapi optimis gitu ceritanya.

Oh iya, bahas sedikit soal pilek, jadi pas hari Kamis dan Jumat itu saya emang sempet sakit, meriang dan demam. Bonus pilek di Jumat. Tapi Sabtu sampai Rabu kelabu itu saya udah sehat lagi. Sempet ada pikiran apakah ini covid karna ya karna semenjak Covid ini tiap ada anggota keluarga sakit selalu ada pikiran mengarah ke sana. Demam dikit, Covid. Sakit tenggorokan, Covid. Gak punya duit, akhir bulan. Pernah tempo hari istri saya mencret-mencret, sempet mikir apakah apakah tapi setelah ditelusuri bukan Covid-19, tapi Sblk-05 alias seblak level 5. Ya, kembali ke diskusi rapid test, akhirnya kami putuskan Rapid Antigen malam itu juga. Setelah menelpon untuk menanyakan apakah masih bisa rapid malam itu, dan ternyata masih bisa, kami bergegas.

Waktu dari rumah ke klinik kurang lebih hanya lima menit. Kami datang, daftar, bayar dan tunggu. Oh iya di klinik itu biayanya Rp 240.000 per orang. Selama menunggu, walaupun sudah yakin saya positif, saya tetap deg-degan. Akhirnya kami dipanggil, dan langsung masuk berdua ke ruang pemeriksaan. Saya yang pertama diperiksa. Agak takut karena ini pengalaman pertama hidung dicolok. Selesai pemeriksaan, kami kembali menunggu untuk mendapatkan hasil. Setelah kami ada satu orang lain yang di rapid juga. Hasil curi dengar, keperluan dia untuk persyaratan bepergian. Tak lama hasil pemeriksaan orang itu keluar, mendahului kami yang melakukan pemeriksaan lebih dulu. Semakin pasrah. Tak lama, kami dipanggil ke ruang dokter yang berbalut APD lengkap. Kami duduk dan seperti sudah diduga, hasil pemeriksaan saya positif. Alhamdulillaah-nya istri saya negatif. Dokter langsung memberi saya Vitamin untuk dua mingu kedepan. Malam itu juga kami langsung berpisah. Istri menginap di rumah Ibunya, juga anak yang memang sejak pagi dititip disana.

Sementara itu, saya melakukan isolasi mandiri di rumah, sesuai petunjuk dokter karena menurutnya gejalanya termasuk ringan. Malam itu juga saya kabari orang tua, dan rekan kerja agar yang kontak erat dengan saya dalam beberapa hari ke belakang dilakukan tes. Malam itu juga saya langsung mencari info swab test. Setelah membanding-bandingkan, pilihan kami jatuh pada Rumah Sakit Edelweiss. Karena hari Kamis hari libur nasional, saya mendaftar untuk hari Jumat, untuk tiga orang. Saya dan istri (untuk memastikan dari hasil rapid) dan anak. Proses Swab-nya saya tulis terpisah aja ya biar tulisan di blog ini makin banyak. 

Kamis, karantina hari pertama. Indra penciuman masih belum berfungsi sama sekali. Cerita sedikit tentang hilangnya penciuman ini. Dari semua gejala Covid-19, yaitu demam, sakit tengorokan, diare, dll, hilangnya indra penciuman ini saya anggap paling gak masuk akal awalnya. Masa sih orang bisa gak bisa nyium bau sama sekali. Sepilek-pileknya orang, pasti lah kecium dikit-dikit mah. Ternyata eh ternyata saya merasakan juga dan memang hilang sama sekali kemampuan mencium bau ini. Azab kayanya. Hari pertama berlalu dengan menyelesaikan Captain America: First Avengers dan Captain Marvel.

Jumat, sesuai jadwal sebelumnya, kami melakukan swab. Anak dan istri terlebih dulu berangkat ke RS Edelweiss. Setelah beres baru saya berangkat sendiri. Selesai, kami tinggal menunggu hasilnya yang harusnya sesuai yang kami bayar, akan didapat di hari yang sama. Bener sih di hari yang sama, jam 23.30 hmmmmmmm........ Dan alhamdulillah anak dan istri saya negatif. Hasil saya tetap positif. Yang menggembirakan, CT value-nya sudah ada di angka 32, yang katanya bagus, tidak infeksius atau apalah gitu. Selesailah karantina hari kedua dengan menyelesaikan Iron Man 1 dan Iron Man 2. Melenceng dikit, saya baru tau Elon Musk jadi cameo di Iron Man 2. Hahaha kamana wae atuh, Gan.



Selain acara lamaran Atta dan Aurel, gak ada yang spesial di hari Sabtu. Oh iya selain indra penciuman yang hilang, di hari-hari tertentu juga kadang mual dan pusing. Nah ini yang bikin nyiksa, mual dan pusing saat gak bisa nyium bau. Biasanya kalau mual dan pusing gitu obatnya ngolesin kayu putih atau fresh care ke hidung. Baunya cukup membantu meringkankan mual dan pusing itu. Lalu film yang saya tonton di Sabtu ini adalah Thor dan The Avengers. Harusnya sih Incredible Hulk dulu, tapi karena di Disney+ Hotstar gak ada, jadi dilewat aja. Ngomong-ngomong Thor, liat lagi Kat Dennings a.k.a Darcy Lewis setelah memesona di WandaVision, duh ya ampun cantiknya.

Penderita Covid itu harus dijauhi secara fisik, namun harus didukung secara moral. Beruntungnya saya mendapatkan itu. Untuk makanan sehari-hari, istri masak makanan yang bisa tahan beberapa hari, nganterin sampe pager rumah. Love you pokonya mah. Sisanya saya mengandalkan Go-Food. Ada juga teman yang berbaik hati mengirimkan makanan dan obat-obatan. Terima kasih.

Nah soal obat-obatan ini yang bikin saya enek. Kalau dihitung-hitung, sehari saya bisa minum lima belas butir obat, dengan pembagian pagi lima, siang lima, malam lima. Obat untuk Covid semua? Bukan. Apesnya, saya kena Covid ini berbarengan dengan sesuatu yang sedang saya kejar dan obat itu sebagai ikhtiarnya jadilah obat yang harus saya minum bisa sebanyak itu. Apa yang sedang saya kejar? Nanti lah saya cerita di tulisan terpisah. Agar apa? Betul agar tulisan di blog ini makin banyak.

Yah begitulah masa-masa karantina saya, gitu-gitu aja sih. Muter muter di bangun jemur makan minum obat olahraga nonton ulangi. Sampai ketemu di hasil swab berikutnya. Semoga negatif. Aamiin.

3 comments

  1. Sekarang udah negatif kan ya?

    Eh, kenapa saya ingatnya Elon Musk itu munculnya di Iron Man 3 ya, aduh harus nonton lagi ini mah hahaha.

    Jadi sebelum penciuman hilang itu ada penyakit lain dulu yang menyerang ya, I see. Mungkin sebelum penciuman hilang itu kalau dites hasilnya bakal masih negatif. Mungkin, asumsi saya aja ini haha.

    Kalau liat-liat mbak Darcy Lewis, saya tuh suka kepikiran sama Felicia di Flash sama Arrow. Cantiknya sama, bikin deg-degan atas bawah liatnya. Terus sebenarnya mau komen lebih panjang tapi nanti aja deh di postingan selanjutnya. Biar apa? Betul biar komennya banyak :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah udah negatif 😁.
      Saya jadi gk yakin dan ngecek lagi, ternyata bener Iron Man 2.
      Oke klo degdegan-able, saya coba tonton haha.
      Mau reply lebih panjang, tqpi nanti aja buat reply selanjutnya. Biar apa? Betul biar reply-nya banyak hhaha

      Delete
    2. Numpang ketawa ajalah, simpan komen selanjutnya buat postingan selanjutnya hahahaha

      Delete