(bukan) Inspirasi Indonesia

Saturday, October 27, 2018

Saya Bukan Pembaca Setia Tabloid BOLA



Kenangan saya bersama Tabloid BOLA nyaris sama dengan Tabloid SOCCER, yang dulu pernah saya tulis di blog yang lama dan kini telah hilang. Sebelum internet segampang sekarang, asupan nutrisi sepakbola saya tercukupi oleh koran, utamanya Tabloid BOLA dan SOCCER. Memang ada televisi, tapi dua koran itu jauh lebih kaya gizi.




Waktu masih tinggal di kampung, akses untuk mendapatkan BOLA sangatlah sulit. Setahu saya, waktu itu tak ada yang jual BOLA. Entahlah, mungkin main saya kurang jauh. Salah satu cara saya mendapatkan Bola adalah kalau kebetulan saya diajak ke kota. Saya masih ingat, sering saya beli di depan Rumah Sakit Kebon Jati. Yang saya lupa, kenapa harus di rumah sakit ya. Sadar frekuensi saya ke kota tidaklah sering, biasanya saya tidak cuma beli satu koran. Kalau kebetulan Si Emangnya masih nyimpen edisi terdahulu, biasanya sekalian saya beli.




Sampai rumah dengan beberapa edisi BOLA dan SOCCER di tangan, sepertinya menjadi salah satu momen paling bahagia waktu itu. Halaman demi halaman saya buka dan baca. Tak rela rasanya jika sampai ada tulisan yang terlewat. Terasa lebay, tapi begitulah waktu itu.



Singkat cerita, saya di kota. Untuk sekolah, bukan buat beli koran. Terkait dengan kebiasaan saya baca Tabloid BOLA, ada sisi postif dan negatif saya sekolah di kota. Positifnya, akses mendapatkan BOLA amat sangat mudah. Di gedung sekolah yang lama, ada satu penjual koran yang kiosnya cukup besar dan lengkap. Biasanya saya beli disitu, walau harus berjalan agak jauh. Tapi ya mending daripada waktu di kampung dulu. Saat di gedung sekolah yang baru (kebetulan sekolah saya pindah lokasi), aksesnya lebih dimudahkan lagi. Jarak dari sekolah ke penjual koran semakin dekat. Tak hanya itu, dari segi jumlah, juga lebih banyak. Ini bermanfaat jika di lokasi A saya kehabisan, ada alternatif lokasi B.




Negatifnya, saat akses sebegitu mudahnya, masa-masa sekolah ini keuangan yang jadi masalah. Dengan jumlah uang bulanan yang terbatas, saya dihadapkan pada pilihan sulit. BOLA, SOCCER, atau makan. Diantara tiga pilihan itu, saya hanya bisa memilih dua. Pilihan pertama, jelas makan. Karena senikmat-nikmatnya baca koran, lebih nikmat nasi padang. 




Pilihan berikutnya, saya memilih SOCCER. Karena dua hal. Pertama, analisa sotoy saya, karena saya merasa SOCCER lebih anak muda banget, dibanding BOLA yang saya rasa lebih ke pembaca bapak-bapak. Kedua, bonus poster. 




2014, SOCCER tumbang. Sayangnya, tumbangnya SOCCER itu disaat internet begitu mudahnya diakses (ini juga mungkin yang jadi penyebab tutupnya SOCCER), jadi tak serta merta saya beralih ke BOLA. Walaupun begitu, sekali-sekali saya beli BOLA. Terlebih saat ada momen khusus, seperti saat Persib juara Liga Indonesia, juara Piala Presiden. Juga saat Harian Bola edisi terakhir.

Tahun ini, BOLA memutuskan untuk tak lagi beroperasi. Terus terang, walau bukan pembaca setia, dan terakhir membeli BOLA entah kapan, mengetahui kabar ini, sungguh menyedihkan. Tapi mau bagaimana lagi, BOLA seperti ini mungkin karena saya dan banyak pembaca lain sudah menemukan media informasi baru yang lebih mudah dan murah untuk diakses. 

Terima kasih Tabloid BOLA. Telah membawa kami ke arena. 

Friday, October 26, 2018

FPL Gameweek 9: Tim 50+ Lagi


Dua free transfer saya manfaatkan betul di gameweek ini. Neil Etheridge yang sudah habis saya jual, diganti Rui Patricio, kiper murah yang lumayan bagus. Persiapan buat benchboost. Satu transfer lagi, saya beli Trippier, menggantikan rekan setimnya, Jan Vertonghen.

Kali ini, saya gunakan formasi 4-3-3. Alisson tetap di bawah mistar gawang. Di depannya berdiri Alonso, Robertson, Cook, dan Trippier. Tiga gelandang diisi Hazard, Schurrle, dan Moutinho. Jimenez dan Wilson menemani kapten Aguero di lini depan.



Dari empat bek, tiga meraih poin lumayan. Walaupun masih satu digit. Duo Chelsea tampil busuk minggu ini. Alonso dan Hazard masing-masing hanya menyumbang satu poin. Dengan beberapa pemain hanya menyumbang poin minim, poin 51 cukup bagus. Liga Head to head masih bisa menang.

Saturday, October 20, 2018

FPL Gameweek 8: Lupa Tak Berarti Bencana


Musim ini, saya coba membiasakan diri update FPL jauh-jauh hari sebelum deadline. Antisipasi lupa dan biar gak buru-buru mikirnya. Biar gk panic buying. Haha.

Gameweek 8 ini, entah kenapa dan gimana ceritanya kebiasaan itu tak dilanjutkan. Akibatnya benar saja, lupa update. Faktor lain lupa update ini ya gara-gara ada kick off di Sabtu dini hari.

Alhasil skuat di Gameweek 8 ini sama persis dangan minggu sebelumnya. Duo Cardiff dan duo Wolves mengisi skuat. Pasrah level dewa.

Tak disangka tak diduga, hasil diluar dugaan. Wilson 14 poin, tokcer. Hazard 14 poin, tokcer. Etheridge yang biasanya memble sekarang dapet 3 poin, lumayan lah ya. Kesalahan pekan ini ada dua. Kapten di tangan Aguero dan gak ngaktifin chip benchboost. Jika benchboost saya aktifkan, ada 24 poin yang bisa bikin makin melesat.



Tapi ya gimana mau aktifin chip, update aja nggk. Gameweek 9 nanti, update jangan ya? Haha

Friday, October 19, 2018

FPL Gameweek 7: Menukik (lagi)


Jatah satu transfer tak saya pakai. Ceritanya percaya dengan skuat gameweek 6 yang poinnya lumayan. Dari tiga pemain Pool di skuat, saya cadangkan dua biji. Alisson dan Robertson saya tepikan. Alasannya jelas, lawannya calon juara Liga Inggris musim ini.

Sebagai ganti duo Pool itu, duo Cardiff naik. Etheridge dan Morisson mengisi sebelas pertama. Kapten masih di tangan Aguero, ditemani dua penyerang medioker, Wilson dan Jimenez.

Etheridge tampil memble. Seperti biasa. Kehebatannya di tiga gameweek awal ternyata hanya keberuntungan. Cuma satu poin diraih kiper Filipina ini. Sama dengan Morisson, Vertonghen, Fraser, dan Mane.


Total cuma dapet 46 poin. Syuram.

Thursday, September 27, 2018

Searching, Kursor Bernyawa dan 3 Pelajaran Berharga Bagi Orang Tua


Judulnya lumayan panjang, bukan?

Akhirnya masih sempat menonton film ini. Capek. Itu kesimpulannya. Capek nebak-nebak siapa pelakunya. Nebak ini, eh salah. Nebak itu, salah juga. Untung gak tebak-tebak buah manggis.

Walau bergenre thriller, film ini langsung melempar komedi di awal. Wallpaper ikonik Windows muncul di layar bioskop segede gaban. John Cho, yang berperan sebagai David Kim mendapat porsi paling besar dalam film ini. Namun ada satu peran lain yang lumayan menonjol, yaitu kursor mouse. Dalam banyak scene, peran kursor begitu melekat, bagai memiliki nyawa. Paling terlihat saat David sedang mengunggah file-file video kenangan anaknya ke MemorialOne, sebuah jasa pemakaman. Diperlihatkan, David melalui kursor berada dalam kebingungan apakah akan memasukkan file video 'best dad ever', yang ironisnya ia sedang merasa sebagai ayah yang gagal karena belum mengenal anaknya lebih jauh. Pada akhirnya, video tersebut dihapus dan seketika dimusnahkan dari recycle bin.

Bagi orang tua, film ini memberikan banyak nilai yang bisa diambil untuk mendidik dan membesarkan anak di era digital.

1. Jangan gaptek
Sepanjang film, David diperlihatkan sebagai ayah yang melek teknologi. Teknologi yang dia manfaatkan untuk mengumpulkan petunjuk demi petunjuk tentang keberadaan anaknya, Margot. Dari yang mainstream macam email, youtube, facebook, instagram, hingga yang masih agak asing sepeti Youcast, Venmo. Gak ada tuh adegan David mengetik di Google, "apa itu youcast" atau "apa agama detektif Vick".

2. Buat email yang benar
Saya beberapa kali diminta bantuan untuk membuat sebuah akun media sosial, yang tentu mengharuskan punya email dan password. Saat saya tanya apa emailnya, dia menjawab, "kalau gak salah, bla bla bla bla". Kata "kalau gak salah" pertanda dia tak yakin apa benar itu emailnya. Lebih parah saat ditanya password, dengan enteng dia menjawab, "lupa euy".

Film ini seolah menampar orang-orang seperti itu. Email dan password itu sangat penting. aAngan asal. Saat David hendak membuka facebook Margot untuk mencari tahu teman-teman anaknya, masalah muncul saat ia tak mengetahui passwordnya. Karena dia Anti Gaptek Gaptek Club, ia menelusuri dengan tombol standar, "lupa password". Di halaman lupa password itu, Margot menulis email ibunya, Pamela sebagai email alternatif. Beberapa prosedur dijalani David hingga akhirnya ia bisa membuat password baru dan membuka facebook Margot. Bayangkan jika Margot menulis edyrahmayadi@gmail.com sebagai email alternatif. Kan berabe.

3. Komunikasi
Diceritakan bahwa David mendaftarkan anaknya les piano. Namun ternyata Margot membatalkan les tersebut tanpa sepengetahuan ayahnya. Ayahnya mengetahui kelakuan anaknya tersebut dari Peter, adiknya, yang mencekoki Margot ganja. Padahal, alasannya sederhana. Tiap ia melihat piano, ia selalu teringat ibunya. Alasan yang bisa diketahui David jika ia mau mengobrol dengan anaknya sambil menyeruput bintang sobo, alih-alih dicekoki ganja.

Mungkin itu tiga hal yang bisa jadi pelajaran bagi orang tua masa kini. Sudah dulu, saya lagi ngapalin karakter Mobile Legends, biar gak ada generation gap sama si Shaqil.

Tuesday, September 25, 2018

Jajal Lensa Meike di Suki Time


Dua Minggu lalu, teman saya meminjami saya lensa. Lensa manual. Sepertinya ini pertama kali saya pake lensa manual. Lah iya orang cuma punya lensa kit doang :))))). Awalnya saya pikir namanya Meke. Setelah lihat-lihat review, blog dan YouTube, tenyata namanya Meike. Tanpa Amalia.

Lensa ini memiliki bukaan lebar, di F/1.7 35mm. Gak ngerti lah pokoknya di dusnya tulisannya kaya gitu. Begitu lensa di tangan, langsung saya pasang di body kamera XA-2 saya. Utak atik kaya orang sok bener.

Beres pdkt di kandang, saya bawa lensa ini main ke luar. Suki Time Express di Transmart jadi pilihan. Berikut ini beberapa hasilnya.


Shaqil Hikaru
Nunggu makanan

Hidungku berasap

Aku bete sama kamu

PANASSSSSSS
Yin Yang



Sekian, semoga suka. Terima kasih. Jangan lupa follow instagram saya @ganganjanuar

Monday, September 24, 2018

FPL Gameweek 6: Serba Keliru


Gameweek 6 ini saya punya dua transfer gratis. Tapi, melihat skuat yang nampaknya baik-baik aja, bingung juga mau beli siapa. Di sisi lain, kalau tidak dipakai sayang juga karena tak bisa diakumulasi. Akhirnya saya beli Raul Jimenez dan Ryan Fraser.

Saat pemilihan pemain untuk starting XI, saya keliru lebih memilih Fraser dibanding Jimenez. Dasar pemikiran saya dangkal, Fraser lawan Burnley, sedangkan Jimenez lawan MU. Hasilnya dua poin untuk Fraser dan 5 poin Jimenez ada di bangku cadangan.



Kalau ditilik, perolehan poin di tiap posisi tak terlalu buruk. Hanya Vertonghen, Schurrle dan Wilson yang berpoin minim. Sisanya oke. Lumayan. Kesalahan saya ada di pemilihan kapten. Sudah betul kapten di tangan Aguero malah saya pindah ke Mane.

Klasemen gameweek ini suram. Panah merah dimana-mana. Gameweek depan trio Liverpool saya ketemu duo Chelsea. Berat.

Search

Popular Posts

Archives

Follow by Email