(bukan) Inspirasi Indonesia

Monday, August 13, 2018

,

FPL Gameweek 1: Panen


Musim ini, entah musim keberapa saya bermain Fantasy Premier League. Permainan yang sangat mirip dengan salat tarawih, semangat di awal, kendor di tengah, semangat lagi akhir musim. Saking semangatnya, saya susun formasi tim saya jauh-jauh hari sebelum deadline.

Awal musim selalu membingungkan. Pemain yang musim lalu menjadi andalan , bisa saja terpinggirkan. Ditambah musim ini digelar seusai piala dunia, membuat pemilihan pemain semakin rumit.

Karena alasan di atas, GW 1 saya setel tanpa harapan tinggi. Juga tanpa M. Salah dan Kane. 11 pemain saya percayakan pada Alisson, Robertson, Alonso, Vertonghen, Neves, Hazard, Schurrle, Eriksen, Aguero, Wilson, dan Vokes. Kapten saya sematkan pada Kun Aguero.


Disusun tanpa ekspektasi, kenyataan berkata lain. Tanpa diduga, tim saya menggila. Trio bek menyumbang poin sama, 11. Aguero, sang kapten tampil memble. Total saya meraih 73 poin di gameweek awal ini. Klasemen liga-liga yang saya ikuti masih terlihat indah.

Bagaimana formasi dan poin saya di gameweek 2? Ikuti terus #SudutFPL di blog ini. Minjem tagline Pandit, #SalamPanahHijau!!

Thursday, August 9, 2018

Uninstall

Ceritanya, ada satu toko online ternama menggaet mantan pesepakbola sebagai btand ambassador mereka. Kebetulan, si mantan pesepakbola ini dulunya adalah salah satu legenda terbesar dari salah satu klub ternama di Indonesia. Nama klubnya berawalan Per. Sangat tidak membantu, bukan? 😁

Rupanya, keputusan si toko online ini menghasilkan kekecewaan dari kelompok suporter yang merupakan rival dari mantan klub si brand ambassador ini. Kekecewaan tersebut ditunjukkan dengan men-uninstall aplikasi toko online tersebut. Karena akun twitter kelompok suporter ini memiliki pengikut dqn pengaruh yang cukup besar, "aksi" uninstall tersebut sontak diikuti para pengikutnya, walaupun tak ada ajakan tertulis dari akun kelompok suporter ini.

Ini membingungkan buat saya. Apakah mendukung tim kesayangan harus sampai pada tahap seperti itu? Saya yakin diantara para pengikut kelompok suporter itu sudah banyak terbantu dengan keberadaan si toko online ini. Baik sebagai pembeli, atau berjualan lewat toko online itu.

Tuesday, August 7, 2018

Begituya Bandung


Entah ada apa dengan Stand Up comedy Kota Bandung, Kampus IFI, dan trio Tama Randy, Guzman Sige, Kamal Ocon. Tiga kali saya menonton stand up spesial yang diadakan di Bandung, selalu mengambil tempat di kampus IFI. Openernya bergantian dari tiga orang yang saya sebut di atas. Gilang Bhaskara memakai ketiganya, Adriano Qalbi memakai Guzman dan Kamal, teranyar, Kukuh memercayakan pada Guzman dan Tama. Kok bisa begituya?
Kali ini saya mendatangi kampus IFI dengan kondisi beberapa bagian sedang direnovasi. Setelah menukar tiket dan menunggu beberapa saat, pintu dibuka dan alunan musik dari Kenny G menyambut kami para penonton. Saya menempati posisi yang sama saat menonton #NotSoSpesial, kursi paling depan. Nyaris semua kursi terisi, hanyavbarisan palingbdepan menyisakan beberapa kursi tak bertuan. Kok bisa begituya?
Karena bekerja sama dengan Majelis Lucu Indonesia, duet Muslim dan Coki didapuk menjadi pembawa acara. Duet stand up comedian paling gila. Bisa dibilang, semua kata yang keluar dari mulut mereka itu punchline. Sejenak saya lupa bahwa mereka itu host, bukan opener. Namun, jika ada pertanyaan siapa yang bisa mengalahkan mereka, jawabannya adalah penonton iseng yang merekam dan mengupload ke dunia maya. Habislah mereka. Kok bisa begituya?
Tama bertugas menjadi opener pertama. Ini kali kedua saya menonton Tama. Jika pada kesempatan pertama saya tidak membawa ekspektasi apa-apa dan Tama membayarnya, kali ini saya membawa sedikit ekspektasi dan ekspektasi saya terbayar dengan materinya seputar kehidupan keluarga muda. Bit favorit saya tentang beli kondom di indomaret. Kok bisa begituya?
Opener kedua, Gamila Arief. Saya menonton Begituya karena dua hal. Pertama, ingin melihat Kukuh. Tentunya. Kedua, saat melihat opener yamg ditawarkan, ada Gamila Arief. Gamila merupakan istri dari salah satu stand up komedian favorit saya, Pandji Pragiwaksono. Pikir saya, materi yang dibawakan akan ke Pandji-pandjian gitu. Namun, begitu Gamila tampil saya dan 200 an penonton lain terpana dengan tatapan dan senyuman. Ya, hanya itu. Tak ada materi ka Pandji-pandjian, tak ada celotehan absurd seperti di twitter. Saya ulang, hanya tatapan dan senyuman. Saya jadi penasaran, berapa honor Gamila untuk show malam itu. Kok bisa begituya?
Pikir saya, diamnya Gamila itu akan menjadi "makanan" bagi Muslim dan Coki. Nyatanya tidak, mereka hanya "menyicip" sedikit. Porsi terbesar disantap oleh opener terakhir, Guzman. Guzman yang memang membawa persona ngondek, menirukan gerak gerik Gamila dengan bagus, lenih bagus dari Gamila sendiri. Lah. Ini kali ketiga saya menonton Guzman. Setelah dikecewakan di Lo Pikir Lo Keren, kali ini Guzman tampil dengan beberapa materi baru, masih seputar Dayeuhkolot. Kok bisa begituya?
Tibalah pada penampilan yang punya acara, Kukuh Adi. Ini pertama kalinya saya menonton Kukuh Stand Up. Kalau video "Minta digampar" termasuk, berarti dua kali. Hehehe. Melihat Kukuh tampil itu, kalau boleh membandingkan, seperti melihat Ge Pamungkas. Ekspresif. Namun jika diibaratkan Liga Inggris, Ge ini Hull City, Kukuh Manchester City. Saya muter-muter cuma mau bilang "beda kelas". Hehe. Maaf ya Ge, tapi Angie cantik, kok. Lah. Kok bisa begituya?
Kukuh, menurut pandangan sotoy saya, bukan tipe pendulang tawa yang rapat. Bit-bitnya membuat tertawa, terdiam sejenak, lalu bilang, oh begituya?. Materi ringan macam "mengucapkan terima kasih" pun bisa dia olah sedemikian rupa dan memjadi keren. Kok bisa begituya?
Materi favorit versi saya malam itu adalah "customer service useless" yang membawa Desy menjadi "tersangka" hampir di sepanjang show. Gimmick mba-mba Google translate, apalagi pas bahasa arab itu super bangke. Lol. Kok bisa begituya?
Yang masih jadi pertanyaan saya, lagu yang dibawakan pas opening itu judulnya apa ya? Kok bisa begituya enaknya?

Halo 2018

Post pertama di tahun baru, nih. Padahal Januari udah mau lewat aja. Semangat ngeblog menukik tajam. Gak tau lagi apa sebabnya. Masa mau nyalahin Instagram lagi. Tentang Instagram, mulai 2018 ini, dari tanggal 1 Januari tepatnya, saya posting foto lego harian di Instagram. Alhamdulillah sampe tgl 19 ini belum pernah bolos. Boleh dicek sekalian follow Instagram saya @gangan_januar. Tahun ini juga saya bakal bikin satu lagi akun Instagram. Rencananya akun baru itu bakal saya isi hasil jepretan iseng saya pake kamera Fuji XA-2. Ada yang mau sumbang sarang username? Hehe

Nulis apa lagi ya? Oh iya, tahun ini Ronaldinho pensiun. Satu golnya yang paling saya ingat saat membobol gawang Chelsea. Prosesnya sungguh ciamik. Dinho dan bola menari bak Mia dan Sebastian di film La La Land sebelum membuat Petr Cech melongo sementara bola masuk gawang. Selamat pensiun, legenda.

Itu aja kayanya ya. Buat teman-teman yang membaca tulisan ini, selamat tahun baru. Apa kabat resolusi 2017?

Mendadak Star Wars


Saya baru tahu, urutan film Starwars itu mulai dari IV, V, VI, I, II, III. Saya nyebut jedi aja tetep jedi, bukan jeday, untung bukan jedun. Cukup menjelaskan betapa nol besarnya soal Starwars?
Lalu, LEGO membuka dan mengubah pandangan saya terhadap Starwars. Sejak main LEGO, Starwars mulai menarik perhatian saya. Bagaimana lucunya R2-D2 dan C3-PO. Bagaimana kerennya Stormtrooper dan Darth Vader. Juga bagaimana gagahnya pesawat Millenium Falcon dalam wujud LEGO. Walaupun saya belum punya. Mahal. Selain itu, nama-nama karakternya makin membuat saya jatuh hati. Kylo Ren, Luke Skywalker, Chewbacca, dan Han Solo beberapa diantaranya.
Desember ini, film terbaru Starwars, The Last Jedi tayang. Dengan latar belakang di paragraf sebelumnya, saya berencana menonton film ini. Mencoba satu studio, bahkan mungkin sebelahan sama fanboy-nya Starwars. Agar tak terlalu terlihat bego, saya maraton nonton dua film sebelumnya, Force Awakens dan Rogue One. Iya tahu, yang Rogue One itu spin-off nya. Sebagai newbie, saya pegang remote di tangan kanan dan browser smartphone di tangan kiri.
Kini, saya siap melangkahkan kaki ke bioskop kesayangan dengan status newbie gak bego-bego amat. Minimal saya tahu Kylo Ren itu anak dari Han Solo dan Leia Organa. Juga tahu kalau Rey itu cantik.
Agar terlihat keren dan Starwars banget, saya tutup tulisan ini dengan
.
.
My trip, my adventure!
.
.
Bercanda.
.
.
MAY THE FORCE BE WITH YOU. TRING!!

Gerak Henti


Sejak lulus bertahun-tahun yang lalu, saya masih tetap menjalin kontak dengan teman SMA saya. Terkadang offline, seringnya online. Dimana? Betul, grup Whatsapp. Ada satu kegiatan yang rutin kami lakukan, yaitu berkumpul tiap kali ada diantara kami yang melepas masa lajang. Bisa seminggu setelah pernikahan, sebulan, atau seketemunya jadwal.
Dalam berkumpul tersebut, agenda utama biasanya lenih mengenalkan, dan mengenalkan lebih si pengantin perempuan, pengalaman menjadi suami istri, dan merisak si jomlo. Tentunya. Sebagai pengantin bari (basi), pertanyaan yang menghampiri saya bukan lagi bagaimana kesan menjadi pasangan suami istri, atau sudah coba berapa gaya, melaninkan ‘apa me time saya?
Mendapat pertanyaan tersebut, jujur saya bingung. Saya bukan tipe orang yang harus punya waktu sendiri. Kalau ada waktu, ya bisa saja pergi. Saya lebih senang menghabiskan waktu di rumah. Kalaupun harus pergi, sebisa mungkin mengajak istri dan anak. Kalau sudah begitu, namanya bukan lagi me time, melainkan our time .
Sampai pada beberapa minggu ke belakang, saya menemukan kegiatan yang bisa dibilang me time, yakni membuat video stop motion. Membuat video stop motion, atau jika dipadankan kedalam bahasa Indonesia menjadi gerak henti, menimbulkan kesenangan tersendiri. Meskipun bisa dibilang gampang, butih kesabaran dan waktu yang luang dalam membuatnya.
Jadi, jika suatu saat saya mendapatkan pertanyaan apa me time mu, saya akan menjawab membuat video stop motion.
Jadi, jika suatu saat saya mendapatkan pertanyaan bagaimana membuat video stop motion, saya akan menjawabnya di tulisan yang lain. Hehehe.

Hikmah Minus 48

Liga Primer Inggris baru menjalani pekan ke-12. Kata baru bisa diganti sudah, tergantung situasi. Bagi para penikmat EPL sekaligus menjalani peran sebagai manajer Fantasy Premier League, pekan kemarin adalah pekan ke-12 dan penyesalan ke-36. Ya, jumlah penyesalan di FPL bisa tiga kali lipat lebih banyak. Menyesal nggak neli si A, menyesal si B dicadangin, menyesal pilij kapten si C. Begitu terus, tiap pekannya, sampai Live… ah sudahlah.

Fantasy Premier League, dibalik keseruannya, terdapat hal-hal negatif didalamnya. Selain menyita waktu saat mempersiapkan tim (dan poin tetap memble), ada satu hal negatif yang baru-baru ini saya sadari dan rasakan. Saya jadi kurang peduli dengan tim kesayangan saya.

Pekan ke-12, tim kesayangan saya, Chelsea bertandang ke kandang West Bromwich Albion. Seperti diketahui, hasil akhir Chelsea menang 4 gol tanpa balas. Namun, sepanjang pertandingan, yang berbarengan dengan empat pertandingan lain, saya lebih sering mengecek skor pertandingan antara Leicester vs Manchester City. Tak lain karena keberadaan De Bruyne, Gabriel Jesus, dan Leroy Sane di tim saya. Nama terakhir saya utus menjadi kapten.

Chelsea menang 4-0 dan saya kecewa, karena Manchester City menang 2-0. Bukan kecewa karena menangnya, kecewa karena Sane hanya menyumbang asis. Kekecewaan bertambah tatkala mengetahui Liverpool menang 3-0. Lagi-lagi bukqn kecewa karena kemenangannya, melainkan kecewa karena Salah mencetak dua gol. Kenapa? Karena awalnya Salah lah yang saya percayai ban kapten, sebelum menjelang deadline saya pindahkan ke Sane.

Ditengah kekecewaan, saya bersyukur. Bersyukir melihat tim teman saya ini.

Menurut cerita yang belio bagikan di grup Whatsapp, belio hendak menggunakan wildcard. Pemain-pemain sudah didapat, keyakinan mendapat poin maksimal sudah membubung tinggi. Namun malang tak dapat ditolak. Impian poin tinggi lenyap seketika gara-gara belio lupa memgaktifkan fitur wildcard. Syedih.

Belajar dari pengalaman pahit itu luar biasa.

Belajar dari pengalaman pahit orang lain itu……….. Warbyasak.

#SalamPanahHijau

Sedikit Tentang Football Tribe Indonesia

Normalnya, tampilan halaman sebuah website/media online nyaris seragam, satu halaman yang ditampilkan memuat satu artikel. Saat hendak membaca tulisan lain, kita harus klik judul yang lain, loading beberapa saat, dan terbuka tulisan baru. Begitu seterusnya.

Cara lain, dengan sebuah navigasi. Mereka biasanya menyediakan tomnol next untuk membaca tulisan selanjutnya, atau previous untuk tulisan sebelumnya. Atau dengan membaca tulisan yang muncul di related article. Tetap saja cara-cara itu membutuhkan sebuah usaha, melakukan klik.

Football Tribe berbeda. Mereka tahu betul cara membuat pembaca betah berlama-lama di situs mereka. Saat website-website lain berlomba mengejar klik dengan memasang judul bombastis (walaupun isinya memble) dan membagi tulisan menjadi beberapa halaman (tak jarang halaman-halaman tersebut bukan berisi tulisan, hanya slide foto), Football Tribe berjalan melawan arah. Di Tribe, saat kita klik tulisan, terbuka, dan kita selesai membacanya, dibawahnya akan langsung muncul tulisan selanjutnya yang siap kita baca, tanpa harus klak klik klak klik. Url di tab akan berubah seketika saat judul baru tampil di layar.

Football Tribe bukan yang pertama menerapkan cara ini, yang saya tahu, Beritagar sudah lebih dulu menerapkan cara serupa.
Satu kata, Keren.

Search

Popular Posts

Categories

Archives

Follow by Email