Tuesday, March 19, 2019

Hidup ala Suneo

sumber: doraemon.fandom.com

Di Twitter, saya menemukan satu gambar yang bagus. Tak hanya bisa membuka memori masa kecil, juga bisa jadi alat perdamaian.


Ya, betul. Suneo dan Giant. Saya mentonton kartun Doraemon di tv, tapi tidak membaca komiknya. Jadi saya kurang tahu gambar diatas itu percakapan asli mereka atau hasil editan.

Lalu, bagaimana potongan komik bisa menjelma menjadi alat perdamaian? Sederhana, anggap Giant adalah jempol kita yang siap mengomentari apapun tanpa peduli yang dikomentari akan merasa sakit hati. Dan Suneo berperan sebagai filter atas pertanyaan-pertanyaan Giant. 

Contoh, saat ingin berkomentar macam-macam atas masalah Gading Gisel, segera tahan dengan 'ya itukan terserah mereka'. 

Pertanyaan-pertanyaan lain macam 'kenapa dia belum punya anak?', kenapa betah LDR-an, istrinya cantik suaminya kok gitu, kenapa anaknya gk divaksin, kenapa rambut Kim Jong Un begitu, dan ratusan kenapa-kenapa yang lain, semua bisa dicegah jika kita sudah bisa hidup ala Suneo. 

Saya pun masih belajar hidup ala Suneo, jadi kalau menemukan saya berkomentar yang aneh-aneh, mohon diingatkan 😁.

Mari #HidupAlaSuneo 






Friday, March 8, 2019

Kapten Kita Captain Marvel



Dalam sebuah film, kadang terjadi perdebatan siapa tak cocok memerankan siapa. Paling dekat, Iqbal yang dianggap tak layak menjadi Dilan. Brie Larson, tidak termasuk dalam perdebatan itu. Brie adalah Vers, Carol Denvers alias Captain Marvel. Seperti Wonder Woman dan Gal Gadot. Seperti Aa Gatot dan Azrax. *dilempar lampu taman.

Bercerita tentang pahlawan super perempuan, bukan kebetulan jika Captain Marvel dirilis bulan Maret, bertepatan dengan hari perempuan internasional. Bagi penonton Indonesia, rilisnya Captain Marvel di bulan Maret adalah berkah tersendiri. Hari kartini tahun ini akan terasa berbeda. Carol Denvers hadir disaat yang tepat. Memberi bukti kekuatan seorang wanita. Habis gelap tebitlah terang itu nyata. Captain Marvel tak hanya terang. Terlalu terang!. Bersinar!.

Menonton film ini, nuansanya seperti film milik Marvel yang lain, Guardian of the Galaxy. Dari sisi lagu-lagunya tentunya. Ini terjadi karena film ini berlatar 90 an.

Film ini juga membiat si Shaqil seperti pertama kai masuk bioskop. Dia berkali menutup mata telinga. Saat ditanya Emaknya, alasannya karena ngagetin. Siapapun bisa menjadi alien Skrull dan muncul seenak jidat. Alasan lain karena sebelumnya dia liat trailer adegan nenek-nenek dipukul di kereta. Adegan itu membuatnya shock dan jadi menebak-nebqk kapan adegan itu muncul di film.

Siapa karakter paling mencuri perhatian? Tentu saja Goose si kucing. Tak percaya? Nonton aja

Skor 8/10

Thursday, February 21, 2019

Mencoba Ngeblog (lagi)


Oke, ngeblog lagi. Sayang udah bayar domain. Terakhir ngeblog Oktober tahun lalu. Malu sama bio Instagram dan Twitter. Hahaha. Banyak sebenernya yang mau diceritain. Januari kemarin ulang tahun ke 29. Dapet kado sepatu dari istri. Masih di Januari, kami sekeluarga untuk pertama kalinya ngeberaniin diri ke IKEA. Kenapa ngeberaniin diri  karena itu rekor nyetir terjauh saya. Nanti deh diceritain di tulisan lain. Kalau inget.

Awal Februari, saya bergabung dengan salah satu komunitas toy fotografi  Toys Portal. Ada yang pernah denger?. Tapi baru sebatas gabung di grup LINE aja, belum sempet ketemu sama master-master toy fotografi disana.

Apa lagi ya, cukup lah sebagai tulisan pembuka di 2019. Tahun politik, tahun panas. Bisa banyak jadi isde tulisan sebenernya. Oh iya, yang punya Instagram, boleh follow saya di @ganganjanuar. Kebanyakan foto-foto Lego. Sama satu lagi @fotoharirabu. Isinya foto-foto non Lego.

Sekian, selamat tahun baru 2019. Sampai bertemu di tulisan-tulisan selanjutnya. Semoga rutin.
Assalamualaikum.

Saturday, October 27, 2018

Saya Bukan Pembaca Setia Tabloid BOLA



Kenangan saya bersama Tabloid BOLA nyaris sama dengan Tabloid SOCCER, yang dulu pernah saya tulis di blog yang lama dan kini telah hilang. Sebelum internet segampang sekarang, asupan nutrisi sepakbola saya tercukupi oleh koran, utamanya Tabloid BOLA dan SOCCER. Memang ada televisi, tapi dua koran itu jauh lebih kaya gizi.




Waktu masih tinggal di kampung, akses untuk mendapatkan BOLA sangatlah sulit. Setahu saya, waktu itu tak ada yang jual BOLA. Entahlah, mungkin main saya kurang jauh. Salah satu cara saya mendapatkan Bola adalah kalau kebetulan saya diajak ke kota. Saya masih ingat, sering saya beli di depan Rumah Sakit Kebon Jati. Yang saya lupa, kenapa harus di rumah sakit ya. Sadar frekuensi saya ke kota tidaklah sering, biasanya saya tidak cuma beli satu koran. Kalau kebetulan Si Emangnya masih nyimpen edisi terdahulu, biasanya sekalian saya beli.




Sampai rumah dengan beberapa edisi BOLA dan SOCCER di tangan, sepertinya menjadi salah satu momen paling bahagia waktu itu. Halaman demi halaman saya buka dan baca. Tak rela rasanya jika sampai ada tulisan yang terlewat. Terasa lebay, tapi begitulah waktu itu.



Singkat cerita, saya di kota. Untuk sekolah, bukan buat beli koran. Terkait dengan kebiasaan saya baca Tabloid BOLA, ada sisi postif dan negatif saya sekolah di kota. Positifnya, akses mendapatkan BOLA amat sangat mudah. Di gedung sekolah yang lama, ada satu penjual koran yang kiosnya cukup besar dan lengkap. Biasanya saya beli disitu, walau harus berjalan agak jauh. Tapi ya mending daripada waktu di kampung dulu. Saat di gedung sekolah yang baru (kebetulan sekolah saya pindah lokasi), aksesnya lebih dimudahkan lagi. Jarak dari sekolah ke penjual koran semakin dekat. Tak hanya itu, dari segi jumlah, juga lebih banyak. Ini bermanfaat jika di lokasi A saya kehabisan, ada alternatif lokasi B.




Negatifnya, saat akses sebegitu mudahnya, masa-masa sekolah ini keuangan yang jadi masalah. Dengan jumlah uang bulanan yang terbatas, saya dihadapkan pada pilihan sulit. BOLA, SOCCER, atau makan. Diantara tiga pilihan itu, saya hanya bisa memilih dua. Pilihan pertama, jelas makan. Karena senikmat-nikmatnya baca koran, lebih nikmat nasi padang. 




Pilihan berikutnya, saya memilih SOCCER. Karena dua hal. Pertama, analisa sotoy saya, karena saya merasa SOCCER lebih anak muda banget, dibanding BOLA yang saya rasa lebih ke pembaca bapak-bapak. Kedua, bonus poster. 




2014, SOCCER tumbang. Sayangnya, tumbangnya SOCCER itu disaat internet begitu mudahnya diakses (ini juga mungkin yang jadi penyebab tutupnya SOCCER), jadi tak serta merta saya beralih ke BOLA. Walaupun begitu, sekali-sekali saya beli BOLA. Terlebih saat ada momen khusus, seperti saat Persib juara Liga Indonesia, juara Piala Presiden. Juga saat Harian Bola edisi terakhir.

Tahun ini, BOLA memutuskan untuk tak lagi beroperasi. Terus terang, walau bukan pembaca setia, dan terakhir membeli BOLA entah kapan, mengetahui kabar ini, sungguh menyedihkan. Tapi mau bagaimana lagi, BOLA seperti ini mungkin karena saya dan banyak pembaca lain sudah menemukan media informasi baru yang lebih mudah dan murah untuk diakses. 

Terima kasih Tabloid BOLA. Telah membawa kami ke arena. 

Friday, October 26, 2018

FPL Gameweek 9: Tim 50+ Lagi


Dua free transfer saya manfaatkan betul di gameweek ini. Neil Etheridge yang sudah habis saya jual, diganti Rui Patricio, kiper murah yang lumayan bagus. Persiapan buat benchboost. Satu transfer lagi, saya beli Trippier, menggantikan rekan setimnya, Jan Vertonghen.

Kali ini, saya gunakan formasi 4-3-3. Alisson tetap di bawah mistar gawang. Di depannya berdiri Alonso, Robertson, Cook, dan Trippier. Tiga gelandang diisi Hazard, Schurrle, dan Moutinho. Jimenez dan Wilson menemani kapten Aguero di lini depan.



Dari empat bek, tiga meraih poin lumayan. Walaupun masih satu digit. Duo Chelsea tampil busuk minggu ini. Alonso dan Hazard masing-masing hanya menyumbang satu poin. Dengan beberapa pemain hanya menyumbang poin minim, poin 51 cukup bagus. Liga Head to head masih bisa menang.

Saturday, October 20, 2018

FPL Gameweek 8: Lupa Tak Berarti Bencana


Musim ini, saya coba membiasakan diri update FPL jauh-jauh hari sebelum deadline. Antisipasi lupa dan biar gak buru-buru mikirnya. Biar gk panic buying. Haha.

Gameweek 8 ini, entah kenapa dan gimana ceritanya kebiasaan itu tak dilanjutkan. Akibatnya benar saja, lupa update. Faktor lain lupa update ini ya gara-gara ada kick off di Sabtu dini hari.

Alhasil skuat di Gameweek 8 ini sama persis dangan minggu sebelumnya. Duo Cardiff dan duo Wolves mengisi skuat. Pasrah level dewa.

Tak disangka tak diduga, hasil diluar dugaan. Wilson 14 poin, tokcer. Hazard 14 poin, tokcer. Etheridge yang biasanya memble sekarang dapet 3 poin, lumayan lah ya. Kesalahan pekan ini ada dua. Kapten di tangan Aguero dan gak ngaktifin chip benchboost. Jika benchboost saya aktifkan, ada 24 poin yang bisa bikin makin melesat.



Tapi ya gimana mau aktifin chip, update aja nggk. Gameweek 9 nanti, update jangan ya? Haha

Friday, October 19, 2018

FPL Gameweek 7: Menukik (lagi)


Jatah satu transfer tak saya pakai. Ceritanya percaya dengan skuat gameweek 6 yang poinnya lumayan. Dari tiga pemain Pool di skuat, saya cadangkan dua biji. Alisson dan Robertson saya tepikan. Alasannya jelas, lawannya calon juara Liga Inggris musim ini.

Sebagai ganti duo Pool itu, duo Cardiff naik. Etheridge dan Morisson mengisi sebelas pertama. Kapten masih di tangan Aguero, ditemani dua penyerang medioker, Wilson dan Jimenez.

Etheridge tampil memble. Seperti biasa. Kehebatannya di tiga gameweek awal ternyata hanya keberuntungan. Cuma satu poin diraih kiper Filipina ini. Sama dengan Morisson, Vertonghen, Fraser, dan Mane.


Total cuma dapet 46 poin. Syuram.