Monday, September 2, 2019

KKN HOROR



Beberapa minggu belakangan ini ramai dibicarakan cerita horor yang berawal dari thread twitter lalu meluas kemana-mana. KKN di Desa Penari. Lalu, muncul perdebatan, apakah kisah itu asli atau fiktif belaka. Banyak yang meyakini itu nyata, tapi tak sedikit yang meragukan, saya salah satunya.  Entah ada hubungannya atau tidak, saya mengalami kejadian tak mengenakkan setelahnya. Oh iya, untuk yang tak kuat mengikuti csrita horor, harap tinggalkan tulisan ini segera. SEGERA!!.

Azan Subuh berkumandang dari salah satu mesjid, berlanjut ke mesjid yang lain. Saya bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu, walau mata masih terasa berat. Tak ada kenaehan apapun, hanya dinginnya air yang saya rasakan, dan itu hal biasa. Selepas Salat berjamaah, saya dihadapkan pada dua pilihan, langsung bangun beberes rumah atau melanjutkan tidur lagi. Udara dingin dan kasur yang terus menunjukkan pesonanya membuat saya tak kuasa menolak ajakannya. Saya tidur lagi. Sebelum tidur, saya ambil hp untuk mengatur alarm, karena harus bekerja. Dua alarm saya atur. Pukul 06.25 dan 06.30, alarm injury time saya menyebutnya. Saya pilih nada alarm paling berisik dan volume maksimal untuk memastikan saya mendengarnya.

Saya simpan hp di tempat yang agak jauh dari jangkauan, agar ada usaha untuk meraihnya. Belum ada keanehan disini. Alarm berbunyi, saya bangun, mematikan dan bergegas tidur lagi. Lima menit lagi, pikir saya. Di sini, mulai terjadi kejanggalan. Baru juga memejamkan mata, terdengar suara seperti kepakan sayap, lalu tak lama hilang. Saya belum curiga. Saya ganti posisi tidur yang tadinya tengkurap menjadi menghadap istri. Suara kepakan itu muncul lagi, yang dari suara yang semakin keras, saya asumsikan objeknya semakin mendekati saya. Merasa terganggu, saya bangun dan segera menyalakan lampu, melihat kanan kiri, namun tak ada apa-apa.

Sambil menunggu alarm kedua berbunyi, saya coba tidur lagi. Kali ini dengan posisi terlentang, sebagai antisipasi suara itu muncul lagi, saya bisa langsung bereaksi. Benar saja, kepakan itu kembali terdengar. Dari sumber suaranya, saya rasakan suara itu melewati mata saya dengan jarak mungkin hanya 10 cm dari mata. Yang lebih meyeramkan, dari irama kepakannya, sekarang makhluk asing itu jumlahnya lebih dari satu!!. Tak menunggu sampai suaranya hilang, saya langsung bangun dan benar saja, ada dua sosok mengerikan di pojok dekat pintu. Kedua sosok yang terlihat samar karena saya tak terpikit menyalakan lampu, saking paniknya. Kedua sosok yang terlihat hanya karena terbantu sedikit cahaya dari ruang tengah.

Dua makhluk itu mulai bergerak, saya semakin panik. Tak berani saya menghadapi mereka dengan tangan kosong. Dengan penglihatam seadanya, saya ambil sesuatu dari atas lemari. Kebetulan, sisir kayu yang saya ambil. Sebelum mereka semakin mendekat, saya menyerang mereka lebih dulu. Saya ayunkan sisir sekeras mungkin sambil berteriak, Kecoa Kecoa Nakal!!!!!!. BEDEBAH!!!!

Friday, August 16, 2019

Dokumentasi Adalah Koentji



Tempo hari, Alvin, teman saya bertanya, "Gan, tiket masuk Sampoerna Sports Club sabaraha?". Pertanyaan yang tak hanya penting bagi dia, juga penting buat saya. Kenapa penting?. Begini, dulu saya bersama istri dan anak pernah berenang di tempat itu. Dengan bermodal hp Xiaomi, saya rekam kegiatan berenang itu dan mengunggahnya di youtube. Masih ada sampai sekarng. Kalau mau menontonnya, silakan.



Video yang tampak receh, saat itu. Tapi saat saya menonton lagi video tersebut, saya sadari beberapa tahun kemudian, betapa video itu penuh kenangan berharga, buat saya, masa buat si Alvin. Dipikir-pikir, dulu saya rajin mendokumentasikan kegiatan keluarga saya. Video-video receh macam Shaqil belajar ngomong R, pengalaman Shaqil disuntik, sampai Shaqil boria dance.


Akhir-akhir ini, kegiatan merekam kegiatan keluarga itu tak lagi saya lakukan. Entah kenapa, padalah kegiatan saya gak sibuk-sibuk amat. Masih sibukan si amat. Krik. Akhirnya, banyak momen keluarga, momen Shaqil yang terlewat dan hanya diabadikan lewat foto. Memang katanya foto lebih berbicara dibanding tulisan. Tapi, jika foto saja kekuatannya sedahsyat itu, apalagi video. Iya kan, iya dong. Sebetulnya saya masih sering membuat video, tapi video stop motion, bukan video kegiatan keluarga. Pertanyaan Alvin itu menjadi alasan pertama saya membuat video keluarga lagi. Iya, alasan pertama, karena ada alasan selanjutnya.




Alasan kedua adalah tulisan ini. Fakhrurroji Hasan.Seorang blogger yang saya kenal saat dulu pernah sama-sama menjadi kontributor di notaslimboy.com. Lama tak berinteraksi, beliau "kembali" dengan rentetan tulisan tentang liburan keluarga. Tak hanya tulisan, Bung Roji melengkapi tulisannya dengan menautkan video dari channel youtubenya, Rumah Roji. Silakan disubscribe. Sekalian subscribe youtube saya, Gangan Januar. Hehehehe. Yang membuat saya termotivasi, beliau sanggup dan sempat merekam ini itu dengan kondisi membawa dua anak.

Dua alasan yang cukup membuat semangat saya kembali menyala untuk membuat video kegiatan keluarga. Sebagai langkah awal, saya membuat segmen baru, Vlog Hari Rabu. Sudah ada dua video di playlist tersebut.



Mari membuat video, karena dokumentasi adalah koentji!!!

Wednesday, July 10, 2019

Panas Di Petronas



(lanjutan)...........ke Petronas Tower. Sangat mainstream, bukan? Ke sana naik apa? Pilihan paling gampang naik LRT. Untuk ukuran pertama kali nyoba LRT, LRT di sana cukup mudah dikuasai. Eh entah sih, kami baru nyoba rute-rute yang gak pindah-pindah jalur, jadi masih bilang gampang. Tiket berwujud token bisa didapat di vending machine.





Caranya:
- pilih transportasi yang akan dipakai. Ada LRT, MRT, Komuter, dll
- pilih rute awal dan rute tujuan
- pilih jumlah tiket yang dibeli
- pilih cara pembayaran, bisa pake kartu atau cash
- bayar lalu ambil token dan kembalian (jika ada)



Rute kami saat itu KL Sentral - KLCC. Tarifnya RM 2.40 per orang. Anak di bawah 5 tahun masih gratis. Kurang lebih 10 menit perjalanan, kami tiba di stasiun tujuan, atau stesen dalam bahasa sana. Kami tanya security arah menuju menara dan kami mengikuti sarannya. Naik tangga keluar, kami sampai di.........Suria KLCC. Di sana banyak gedung-gedung tinggi menjulang. Tapi, menara Pertonasnya dimana? Kami tanya lagi orang di dekat situ, ternyata menaranya ada persis dibelakang kami. Hahaha. AMATIR KEBELET NARSIS.





Ngapain aja di sana? Sempat terpikir untuk demo menolak hasil pemilu atau perpanjang pajak motor, tapi buat apa. Akhirnya kami melakukan aktifitas yang biasa dilakukan kaum kelas menengah ngehe. Foto-foto. Pingin sih masuk, naik ke dalam sana, tapi setelah tahu biayanya bisa buat beli kuota 3 bulan, kami urungkan keinginan itu. Cuaca di sana persis seperti timnas Perancis di piala dunia 2018, JUARA DUNIA!!. Saya yang saat itu berbusana kemeja warna gelap dibalut sweater, mendadak seperti dedek-dedek jeketi di iklan Pocari, berkeringat dari segala penjuru.



Mengingat menara yang cukup tinggi, sempat memegang rekor sebagai menara tertinggi sebelum dipatahkan Burj Khalifa, kata wiki, membuat para turis kesulitan mengambil gambar menara secara utuh. Di mana ada kesulitan, di situ ada pedagang memanfaatkan. Di sekitar menara banyak mas-mas India menawarkan sejenis lensa fish-eye. Sempat ditawari, saya lebih memilih usaha sendiri sembari nungging-nungging sebagai jalan ninja saya. Puas berfoto, jadwal selanjutnya adalah menuju ke Petaling Street atau lebih beken disebut Chinatown. LRT kembali menjadi pilihan kami, kali ini rutenya KLCC-Pasar Seni. Keluar stesen, ternyata Central Market lebih menggoda untuk dikunjungi lebih dulu. Masuk tangan kosong, keluar dompet kami yang kosong. *amit-amit. Belanja maksudmya, bukan dicopet.







Karena satu dan lain hal, rencana diubah. Chinatown kita tunda dulu. Masjid Jamek, yang sebelumnya tak masuk dalam daftar, menjadi tujuan selanjutnya. Kebetulan waktu menunjukkan pukul 17.00, sudah masuk waktu ashar. Sekadar info, waktu ashar di sana sekitar pukul 16.40 an. Karena memakai celana pendek, saya pinjam sarung. Mas-masnya nyari, dan gak ketemu-ketemu. Akhirnya saya dikasih pinjem bawahan mukena - _-. Selesai solat, kami istirahat sebentar, foto-foto, sementara Shaqil sudah tepar. Ingin melanjutkan jalan-jalan, tapi apa daya kaki-kaki ini sudah terlalu lelah untuk diajak tamasya. Akhirnya kami putuskan pulang ke hotel, karena paginya kami harus terbang ke.......... (bersambung)


Friday, July 5, 2019

Kena Semprot Petugas Imigrasi



(lanjutan).......... Nyari koper. Berdasarkan pengalaman, teman saya pernah hilang koper dan kompensasinya sungguh tak sepadan. Oh iya, sebelum koper, ada pengalaman memalukan saat melewati imigrasi. Begitu tiba giliran saya, melangkahlah saya dengan wajah belaga tenang padahal deg deg ser. Hasil mengintip orang sebelum saya, saya tiru prosesnya. Pertama, hadapkan wajah ke kamera. Beres. Lalu saya tempelkan telunjuk kiri saya diatas alat sidik jari. Petugas masih diam, tapi muka memperlihatkan mimik kesal. Saya pikir dia kesal karena jari saya tak kunjung terbaca alat. Sampai akhirnya petugas memarahi saya "KAMU MATA SUDAH EMPAT, BACALAH MAKLUMAT!!!!". Ternyata tepat di samping alat sidik jari itu terdapat pemberitahuan bahwa cara yang baik dan benar adalah langsung menempelkan kedua jari, telunjuk kiri dan kanan. Hahaha. Selanjutnya, koper tak ada masalah.




Lalu, berdasarkan itinerary, tugas selanjutnya adalah membeli provider seluler lokal. Hasil mencari info sana sini, pegangan saya ada dua, Digi dan Hotlink. Dilihat dari dominasi warnanya, seperti Indosat dan Telkomsel lah kalau di sini. Akhirnya saya putuskan pilih Hotlink, karena katanya jaringan kuat hingga pelosok. Ditambah lagi, diantara booth-booth provider seluler yang berjejer di sana, Hotlink lah yang paling banyak kastamernya. Diantara paket yang tersedia, kami pilih satu paket yang ternyata kami keliru, salah perhitungan. Karena begitu pulang ke Bandung, kuota masih sisa 8 GB. Harganya lupa, RM 70 kalau tidak salah.



Koper aman, internet aman, selanjutmya mencari transportasi menuju KL Sentral. Karena masih memiliki banyak waktu luang, kami pilih bis. Alasan utamanya tentu karena MURAH. Masa harus diperjelas, sih. Counter bisnya tak jauh dari pintu keluar. Tarifnya, RM 30 untuk tiga orang dengan rincian RM 12 untuk dewasa dan RM 6 untuk anak. Waktu tempuh dari bandara ke KL Sentral kurang lebih satu jam, dengan lalu lintas yang wajar.




Tiba di KL Sentral, saya langsung keluarkan teman baik saya, Google Maps, untuk mencari lokasi Easy Hotel, tempat kami menginap. Google Maps mengarahkan kami pada jalur yang ditempuh kurang lebih tujuh menit jalan kaki. Belakangan, ternyata ada jalur yang lebih ringkas, bisa cuma 4 menitan saja. Huft. Gak apa-apa lah, demi konten tulisan.

Petugas hotel menyambut kami bertiga dengan ramah. Keramahan mereka saya apresiasi, tapi maaf saya lebih tertarik dengan es jeruk di pojok sana. Satu gelas dengan cepat berpindah mengaliri kerongkongan. Voucher hotel dan paspor kami serahkan untuk pengecekan, tak lupa bayar pajak turis RM 10 per malam. Harga yang kami bayar untuk hotel ini sekitar 1,2 juta untuk tiga malam. Naik ke lantai 4, kamar 405 menjadi milik kami. Satu jam waktu yang kami miliki untuk istirahat, solat, makan, sebelum memulai petualangan ke........(bersambung)


Tuesday, July 2, 2019

Bertiga Ke Malaysia



Ini pertama kali kami berlibur ke luar negeri tanpa teman sama sekali. Bertiga doang. 2013 lalu, kami berdua, Shaqil belum ada, berangkat ke Hongkong dan Macau bersama teman-teman yang sudah lihai dalam urusan liburan luar negeri. Alhasil, kami ngikut saja. Lalu, saat ke Singapura tahun 2016, rombongan kami ditemani dua orang yang pada 2013 ikut ke Hongkong. Kini, dua orang ini berada dalam payung Nawang Kirana, sebuah travel agent. Diurus travel, ya kami tahu beres saja.



Agar tidak terlalu asing, kami pilih Malaysia, karena dua hal. Secara bahasa masih bisa dimengerti dan karena LEGOLAND terdekat ada disitu. Pemilihan LEGOLAND ini untuk merayakan ulang tahun Shaqil. Sebagaimana pengalaman pertama, kami dilanda virus GGN alias Grogi Grogi Norak. Jauh hari sebelum berangkat, saya baca-baca blog traveler yang sudah pernah berkunjung kesana. Yang belum saya ngerti, saya komentar di tulisannya. Bahkan ada satu orang yang sengaja saya email buat tanya-tanya. Dari hasil blog walking itu, saya coba buat itinerary sebisanya. Beruntungnya, ada teman istri saya yang beberapa bulan sebelumnya berangkat kesana, otomatis dia menjadi sumber info kami. H-7 kami sudah mulai kemas baju-baju, berharap H-1 sudah siap, tinggal berangkat. Harapan tinggal harapan, sehari sebelum berangkat kami masih sibuk mempersiapkan ini itu.



Tibalah hari keberangkatan, 26 Juni 2019. Jadwal penerbangan kami pukul 08.30. Selepas subuh kami sudah berangkat dan pukul 06.00 tiba di bandara. Langsung kami cari penerbangan internasional, yang kami ketahui setelah tanya-tanya teman, hahaha. Maafkan kami traveler amatir. Saat itu conter check in belum dibuka, sudah banyak orang menunggu. Penyakit saya kalau lagi deg-degan itu mulas. Tanpa pikir panjang saya langsung cari toilet. Baru juga mengunci pintu toilet, Istri saya menelpon memberi tahu counter check in sudah dibuka, ritual pun ditunda. Masuk tempat check in, termyata sudah ada mesin check in mandiri. Karena masih bodoh, kami pilih cara yang konvensional saja. Beres urusan check in, lanjut ke pemeriksaan barang yang dibawa ke kabin.

Proses ini yang bikin saya was-was tiap kali naik pesawat. Was-was apa saja yang boleh dan tidak boleh dibawa ke kabin. Dan benar saja, tripod yang dengan santainya saya tenteng gak bisa masuk ke kabin. Saya kembali ke counter check in untuk menambahkan tripod saya ke bagasi. Demi keamanan, saya lindungi terlebih dahulu dengan plastik wrap, bayar Rp. 55.000. Huft. Untung jatah bagasi masih ada.



Di pesawat sebenarnya tak ada masalah. Calon sumber masalah hanya Shaqil. Tapi berbekal pengalaman ke Singapura dulu dia baik-baik saja. Sempat was-was juga karena di medsos sedang ramai penumpang yang lebih memilih satu pesawat dengan hewan peliharaan dibanding seorang bayi. 11.40 waktu Malaysia, kami mendarat di KLIA....................2 dong, tentunya. Dan hal pertama yang kami lakukan adalah.......(bersambumg)

Thursday, April 25, 2019

Endgame



Awalnya tak ada niat untuk menonton di hari pertama. Hmm.. sebetulnya ada, tapi diurungkan, untuk beberapa hal. Premier Avengers itu hari Rabu, hari kerja. Jam nonton paling mungkin dipilih itu pukul 6 atau 7 sore. Dengan durasi film selama 3 jam, film akan beres pukul 9 atau 10. Lalu masalahnya dimana? Masalahnya kami nonton bawa anak kecil. Kami khawatir dia akan ngantuk jelang akhir film.

Tanggal presale dibuka, niat kami masih kukuh nonton akhir pekan. Hingga akhirnya gempuran promosi film ini meruntuhkan niat kami. Seketika itu juga saya lamgsung tanya ke Shaqil, "nonton malem bakal ngantuk gak?". Satu jawaban yang kami harapkan keluar dari mulutnya membuat saya maju ke babak selanjutnya, nyari tiket!!

Pilihan pertama, TSM. Sudah diduga, penuh. Kursi kosong tinggal deret paling depan. Karena kami masih sayang leher, kami cari studio lain. Hasilnya, idem. Entah masih ada tapi saya nyarinya kurang militan, tapi nemunya selalu paling depan. Tak patah semangat, saya coba arahkan pemcarian ke Cinemaxx, yang menayangkan Avengers mulai pukul 5 pagi. Layar lebih banyak otomatis lursi tersedia juga banyak. Dapat, pukul 18.30 di kursi favorit, atas, pojok #eh. Namun, jiwa tak puas langsung menguasai, penasaran siapa tahu dapet jam lebih awal, tiga kursi yang sudah dipilih tak langsung saya bayar. Hasilnya, kursi dengan jam lebih awal gak dapet, tiga kursi awal pun lepas diserobot orang. Untungnya masih kebagian di jam itu, hanya 'turun kelas', dari premium ke prefered.

Dan hari Endgame pun tiba. Walau menonton di hari pertama, rasa was-was terpapar racun spoiler tetap ada. Pelakunya ya dari yang nonton subuh itu. Haha. Masuk studio, telat entah berapa menit. Kami masuk saat Clint Barton sedang bermain bersama anaknya. Berapa menit, tuh?. Oh iya, di Cinemaxx kamera mirrorless atau DSLR gak boleh masuk. Saya gak tahu persis aturannya, cuma berkali-klai nonton di jaringan bioskop xxi, 21, atau CGV, mirrorless saya gak pernah dimasalahin. Sempat kesal karena berniat foto wefie selepas film, tapi ya sudah.

Oke, masuk ke filmnya. Bingung juga caranya ngereview tanpa spoiler . Intinya saya pengen nangis, bukan karena ceritanya, saya mau nangis untuk keseluruhan filmnya. Jika harus menyimpulkan film ini dalam satu kata, keren, misalnya, itu mustahil. Karena film ini keren keren keren keren keren keren keren keren keren 3000 kali. 3 jam berlalu secepat itu. Terserah mau dibilang lebay.

Ada satu scene lucu favorit saya di Ant-Man dihadirkan di film ini. Scene pertukaran di Infinity War pun kembali hadir, lebih menyayat hati, menguras emosi. Masih di Infinity War, ingat pertarungan dahsyat di Wakanda? Di Endgame lebih menyeramkan, menegangkan. Captain Marvel tampil sesuai porsi. Dengan tampilan baru, makin cantik, makin sayang #eh.

Udah ah takut kelepasan spoiler. Tonton sesegera mungkin.
Diluar kebiasaan, tidak ada credit scene, tapi ada semacam penghargaan kepada pemeran Avengers awal. Nilai? Kalau boleh saya mau kasih 11/10. Lebay? Gapapa. Emamg keren banget kok. Saya berencana menonton lagi, untuk dua hal. Hal kedua untuk melihat kembali siapa tahu ada detail-detail yag terlewat. Hal pertama karena ingin menikmati kembali naik turunnya emosi.

Monday, April 15, 2019

Pak Jokowi Pak Prabowo

sumber: @jokowi dan @prabowo

Sore itu sepulang kerja, saya di depan pagar sedang berusaha membuka gembok yang belakangan ini sulit sekali dibukanya. Gembok berhasil dibuka, saya masuk. Saat pintu pagar baru setengahnya tertutup, di depan rumah ada dua anak komplek, teman bermain Shaqil. Satu anak mengayuh pelan sepeda, sedang yang satunya berjalan disampingnya.

Saya tak terlalu memperhatikan mereka, awalnya. Namun perhatian sayapun teralih saat si pemakai sepeda tiba-tiba bilang ke teman sebelahnya, "nanti mah kalo Jokowi menang, gak bakalan ada ustaz lagi". Lalu temannya dengan lantang merespon, Hidup Prabowo!!.

Ucapan seperti itu itu keluar dari mulut anak SD, jelas membuat saya kaget. Kaget darimana dia mendapat informasi seperti itu. Tapi, bukan hanya itu sebenarnya yang jadi perhatian saya. Betapa gampangnya seseorang menyebut orang yang lebih tua dengan sebutan nama langsung. Jokowi, Prabowo. Terlebih, salah satu dari dua orang ini yang akan menjadi presiden. Bahkan status Pak Jokowi masih presiden Republik Indonesia.

Gempuran tayangan iklan atau berita di televisi menjadi salah satu penyebabnya. Seringkali tayangan itu menyebut dua nama yang saya sebut di atas tanpa embel embel bapak. Pernah suatu kali, Shaqil bilang, "Shaqil mah mau pilih Jokowi"  Lalu kami iseng bertanya, kenapa? Dia menjawab, "gak tau seneng aja"  Di lain kesempatan dia bilang, Shaqil mah pilih Prabowo ah". Kami bertanya lagi, kenapa?. Soalnya dua lebih gede dari satu. Kami lega sekaligus miris.

Lega karena Shaqil masih memandang pilpres ini dari kacamata anak. Makin gede, makin bagus (dalam konteks nomor urut). Miris karena itu tadi, memanggil orang tua dengan sebutan nama langsung. Sebagai orang tua, kami tak mau Shaqil keluar rumah, bermain dan berbicara seperti itu.

Kami memulainya dari diri sendiri dengan mulai menyebut Pak Jokowi dan Pak Prabowo tiap kali menyebut nama mereka. Setidaknya depan Shaqil. Lalu, tiap kali Shaqil menyebut mereka tanpa bapak, kami langsung meralatnya. Semoga usaha kami berdua berhasil.

Kalau mau tahu saya pilih siapa, jawabnya Rahasia