Thursday, April 25, 2019

Endgame



Awalnya tak ada niat untuk menonton di hari pertama. Hmm.. sebetulnya ada, tapi diurungkan, untuk beberapa hal. Premier Avengers itu hari Rabu, hari kerja. Jam nonton paling mungkin dipilih itu pukul 6 atau 7 sore. Dengan durasi film selama 3 jam, film akan beres pukul 9 atau 10. Lalu masalahnya dimana? Masalahnya kami nonton bawa anak kecil. Kami khawatir dia akan ngantuk jelang akhir film.

Tanggal presale dibuka, niat kami masih kukuh nonton akhir pekan. Hingga akhirnya gempuran promosi film ini meruntuhkan niat kami. Seketika itu juga saya lamgsung tanya ke Shaqil, "nonton malem bakal ngantuk gak?". Satu jawaban yang kami harapkan keluar dari mulutnya membuat saya maju ke babak selanjutnya, nyari tiket!!

Pilihan pertama, TSM. Sudah diduga, penuh. Kursi kosong tinggal deret paling depan. Karena kami masih sayang leher, kami cari studio lain. Hasilnya, idem. Entah masih ada tapi saya nyarinya kurang militan, tapi nemunya selalu paling depan. Tak patah semangat, saya coba arahkan pemcarian ke Cinemaxx, yang menayangkan Avengers mulai pukul 5 pagi. Layar lebih banyak otomatis lursi tersedia juga banyak. Dapat, pukul 18.30 di kursi favorit, atas, pojok #eh. Namun, jiwa tak puas langsung menguasai, penasaran siapa tahu dapet jam lebih awal, tiga kursi yang sudah dipilih tak langsung saya bayar. Hasilnya, kursi dengan jam lebih awal gak dapet, tiga kursi awal pun lepas diserobot orang. Untungnya masih kebagian di jam itu, hanya 'turun kelas', dari premium ke prefered.

Dan hari Endgame pun tiba. Walau menonton di hari pertama, rasa was-was terpapar racun spoiler tetap ada. Pelakunya ya dari yang nonton subuh itu. Haha. Masuk studio, telat entah berapa menit. Kami masuk saat Clint Barton sedang bermain bersama anaknya. Berapa menit, tuh?. Oh iya, di Cinemaxx kamera mirrorless atau DSLR gak boleh masuk. Saya gak tahu persis aturannya, cuma berkali-klai nonton di jaringan bioskop xxi, 21, atau CGV, mirrorless saya gak pernah dimasalahin. Sempat kesal karena berniat foto wefie selepas film, tapi ya sudah.

Oke, masuk ke filmnya. Bingung juga caranya ngereview tanpa spoiler . Intinya saya pengen nangis, bukan karena ceritanya, saya mau nangis untuk keseluruhan filmnya. Jika harus menyimpulkan film ini dalam satu kata, keren, misalnya, itu mustahil. Karena film ini keren keren keren keren keren keren keren keren keren 3000 kali. 3 jam berlalu secepat itu. Terserah mau dibilang lebay.

Ada satu scene lucu favorit saya di Ant-Man dihadirkan di film ini. Scene pertukaran di Infinity War pun kembali hadir, lebih menyayat hati, menguras emosi. Masih di Infinity War, ingat pertarungan dahsyat di Wakanda? Di Endgame lebih menyeramkan, menegangkan. Captain Marvel tampil sesuai porsi. Dengan tampilan baru, makin cantik, makin sayang #eh.

Udah ah takut kelepasan spoiler. Tonton sesegera mungkin.
Diluar kebiasaan, tidak ada credit scene, tapi ada semacam penghargaan kepada pemeran Avengers awal. Nilai? Kalau boleh saya mau kasih 11/10. Lebay? Gapapa. Emamg keren banget kok. Saya berencana menonton lagi, untuk dua hal. Hal kedua untuk melihat kembali siapa tahu ada detail-detail yag terlewat. Hal pertama karena ingin menikmati kembali naik turunnya emosi.

Monday, April 15, 2019

Pak Jokowi Pak Prabowo

sumber: @jokowi dan @prabowo

Sore itu sepulang kerja, saya di depan pagar sedang berusaha membuka gembok yang belakangan ini sulit sekali dibukanya. Gembok berhasil dibuka, saya masuk. Saat pintu pagar baru setengahnya tertutup, di depan rumah ada dua anak komplek, teman bermain Shaqil. Satu anak mengayuh pelan sepeda, sedang yang satunya berjalan disampingnya.

Saya tak terlalu memperhatikan mereka, awalnya. Namun perhatian sayapun teralih saat si pemakai sepeda tiba-tiba bilang ke teman sebelahnya, "nanti mah kalo Jokowi menang, gak bakalan ada ustaz lagi". Lalu temannya dengan lantang merespon, Hidup Prabowo!!.

Ucapan seperti itu itu keluar dari mulut anak SD, jelas membuat saya kaget. Kaget darimana dia mendapat informasi seperti itu. Tapi, bukan hanya itu sebenarnya yang jadi perhatian saya. Betapa gampangnya seseorang menyebut orang yang lebih tua dengan sebutan nama langsung. Jokowi, Prabowo. Terlebih, salah satu dari dua orang ini yang akan menjadi presiden. Bahkan status Pak Jokowi masih presiden Republik Indonesia.

Gempuran tayangan iklan atau berita di televisi menjadi salah satu penyebabnya. Seringkali tayangan itu menyebut dua nama yang saya sebut di atas tanpa embel embel bapak. Pernah suatu kali, Shaqil bilang, "Shaqil mah mau pilih Jokowi"  Lalu kami iseng bertanya, kenapa? Dia menjawab, "gak tau seneng aja"  Di lain kesempatan dia bilang, Shaqil mah pilih Prabowo ah". Kami bertanya lagi, kenapa?. Soalnya dua lebih gede dari satu. Kami lega sekaligus miris.

Lega karena Shaqil masih memandang pilpres ini dari kacamata anak. Makin gede, makin bagus (dalam konteks nomor urut). Miris karena itu tadi, memanggil orang tua dengan sebutan nama langsung. Sebagai orang tua, kami tak mau Shaqil keluar rumah, bermain dan berbicara seperti itu.

Kami memulainya dari diri sendiri dengan mulai menyebut Pak Jokowi dan Pak Prabowo tiap kali menyebut nama mereka. Setidaknya depan Shaqil. Lalu, tiap kali Shaqil menyebut mereka tanpa bapak, kami langsung meralatnya. Semoga usaha kami berdua berhasil.

Kalau mau tahu saya pilih siapa, jawabnya Rahasia

Wednesday, April 10, 2019

Rahasia



Jika tahun 2019 disebut tahun politik  makan bulan April 2019 ini adalah tahunnya politik. Panas, saling serang satu sama lain. Pusing karena selain memilih capres cawapres, 17 April nanti kita memilih calon legislatif. Sudah menentukan capres cawapres dan calegnya?

Saya sendiri beberapa kali mendapat pertanyaan, nomor satu apa dua, Gan? Bubur diaduk apa disedot, Gan? Pertanyaan kedua, saya jawab di tulisan lain. Untuk pertanyaan pertama, jawaban saya, rahasia.

Begini, tahun 2014 lalu, saya memilih Pak Jokowi. Tak hanya memilih, saya juga "membantu" kampanye Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla waktu itu. Kampanye di Path. Hahaha. Beberapa kali saya memposting yang berkaitan dengan pencalonan Pak Jokowi. Ada efeknya? Tentu saja. Bukan, efeknya bukan kemenangan Pak Jokowi. Gak ngaruh kampanye saya hahaha. Efeknya saya jadi canggung dengan teman yang mendukung dan menyuarakan Pak Prabowo.

Tahun 2019 ini, entah kebetulan atau tidak, Pak Jokowi akan kembali berhadapan dengan Pak Prabowo. Kembali bertarung memperebutkan hati dan suara rakyat. Jadi akan sangat wajar jika ada yang berkomentar, ah paling si gangan pilih Pak Jokowi lagi. Walaupun pada kenyataannya tak ada yang peduli. Hehehe. Atau dengan keputusan saya merahasiakan pilihan, sementara 5 tahun lalu memilih Pak Jokowi, akan ada yang beranggapan, nyesel ya milih jokowi. Walaupun lagi-lagi, tak ada yang peduli.

Meskipun begitu, setidaknya ada tiga hal yang membuat pilihan saya merahasiakan pilihan capres cawapres ini bisa bekerja. Apa itu? Sebelum dibahas, iklan dulu.



BELI KAOS TERSEBUT DI TOKO HARI RABU


1. Calon presiden
Dua nama yang maju tetap sama, yamg membedakan adalah umur, mereka lima tahun lebih tua. Kita semua juga sih. Tapi, pilihan saya bisa rahasia karena meskipun orangnya tetap, tapi tetap ada pilihan. Jadi kemungkinan masih 50-50 antara Pak Jokowi atau Pak Prabowo.

2. Cawapres
Jika pasangan capres dikesampingkan karena alasan calonnya itu-itu saja, maka muncul dari sisi cawapres. Lima tahun lalu saya memilih Pak JK daripada Pak Hatta, tahun ini 50-50 antara Pak Ma'ruf atau Pak Sandi.

3. Program
Penjelasan kurang lebih sama seperti poin 1 dan 2.

Sejauh ini, efek merahasiakan pilihan saya, saya tak canggung lagi dengan teman yang berbeda pilihan.

Sebelum saya akhiri tulisan ini, ada satu video bagus dari Skinny Indonesia featuring Coki Muslim, silakan ditonton


Tuesday, March 19, 2019

Hidup ala Suneo

sumber: doraemon.fandom.com

Di Twitter, saya menemukan satu gambar yang bagus. Tak hanya bisa membuka memori masa kecil, juga bisa jadi alat perdamaian.


Ya, betul. Suneo dan Giant. Saya mentonton kartun Doraemon di tv, tapi tidak membaca komiknya. Jadi saya kurang tahu gambar diatas itu percakapan asli mereka atau hasil editan.

Lalu, bagaimana potongan komik bisa menjelma menjadi alat perdamaian? Sederhana, anggap Giant adalah jempol kita yang siap mengomentari apapun tanpa peduli yang dikomentari akan merasa sakit hati. Dan Suneo berperan sebagai filter atas pertanyaan-pertanyaan Giant. 

Contoh, saat ingin berkomentar macam-macam atas masalah Gading Gisel, segera tahan dengan 'ya itukan terserah mereka'. 

Pertanyaan-pertanyaan lain macam 'kenapa dia belum punya anak?', kenapa betah LDR-an, istrinya cantik suaminya kok gitu, kenapa anaknya gk divaksin, kenapa rambut Kim Jong Un begitu, dan ratusan kenapa-kenapa yang lain, semua bisa dicegah jika kita sudah bisa hidup ala Suneo. 

Saya pun masih belajar hidup ala Suneo, jadi kalau menemukan saya berkomentar yang aneh-aneh, mohon diingatkan 😁.

Mari #HidupAlaSuneo 






Friday, March 8, 2019

Kapten Kita Captain Marvel



Dalam sebuah film, kadang terjadi perdebatan siapa tak cocok memerankan siapa. Paling dekat, Iqbal yang dianggap tak layak menjadi Dilan. Brie Larson, tidak termasuk dalam perdebatan itu. Brie adalah Vers, Carol Denvers alias Captain Marvel. Seperti Wonder Woman dan Gal Gadot. Seperti Aa Gatot dan Azrax. *dilempar lampu taman.

Bercerita tentang pahlawan super perempuan, bukan kebetulan jika Captain Marvel dirilis bulan Maret, bertepatan dengan hari perempuan internasional. Bagi penonton Indonesia, rilisnya Captain Marvel di bulan Maret adalah berkah tersendiri. Hari kartini tahun ini akan terasa berbeda. Carol Denvers hadir disaat yang tepat. Memberi bukti kekuatan seorang wanita. Habis gelap tebitlah terang itu nyata. Captain Marvel tak hanya terang. Terlalu terang!. Bersinar!.

Menonton film ini, nuansanya seperti film milik Marvel yang lain, Guardian of the Galaxy. Dari sisi lagu-lagunya tentunya. Ini terjadi karena film ini berlatar 90 an.

Film ini juga membiat si Shaqil seperti pertama kai masuk bioskop. Dia berkali menutup mata telinga. Saat ditanya Emaknya, alasannya karena ngagetin. Siapapun bisa menjadi alien Skrull dan muncul seenak jidat. Alasan lain karena sebelumnya dia liat trailer adegan nenek-nenek dipukul di kereta. Adegan itu membuatnya shock dan jadi menebak-nebqk kapan adegan itu muncul di film.

Siapa karakter paling mencuri perhatian? Tentu saja Goose si kucing. Tak percaya? Nonton aja

Skor 8/10

Thursday, February 21, 2019

Mencoba Ngeblog (lagi)


Oke, ngeblog lagi. Sayang udah bayar domain. Terakhir ngeblog Oktober tahun lalu. Malu sama bio Instagram dan Twitter. Hahaha. Banyak sebenernya yang mau diceritain. Januari kemarin ulang tahun ke 29. Dapet kado sepatu dari istri. Masih di Januari, kami sekeluarga untuk pertama kalinya ngeberaniin diri ke IKEA. Kenapa ngeberaniin diri  karena itu rekor nyetir terjauh saya. Nanti deh diceritain di tulisan lain. Kalau inget.

Awal Februari, saya bergabung dengan salah satu komunitas toy fotografi  Toys Portal. Ada yang pernah denger?. Tapi baru sebatas gabung di grup LINE aja, belum sempet ketemu sama master-master toy fotografi disana.

Apa lagi ya, cukup lah sebagai tulisan pembuka di 2019. Tahun politik, tahun panas. Bisa banyak jadi isde tulisan sebenernya. Oh iya, yang punya Instagram, boleh follow saya di @ganganjanuar. Kebanyakan foto-foto Lego. Sama satu lagi @fotoharirabu. Isinya foto-foto non Lego.

Sekian, selamat tahun baru 2019. Sampai bertemu di tulisan-tulisan selanjutnya. Semoga rutin.
Assalamualaikum.

Saturday, October 27, 2018

Saya Bukan Pembaca Setia Tabloid BOLA



Kenangan saya bersama Tabloid BOLA nyaris sama dengan Tabloid SOCCER, yang dulu pernah saya tulis di blog yang lama dan kini telah hilang. Sebelum internet segampang sekarang, asupan nutrisi sepakbola saya tercukupi oleh koran, utamanya Tabloid BOLA dan SOCCER. Memang ada televisi, tapi dua koran itu jauh lebih kaya gizi.




Waktu masih tinggal di kampung, akses untuk mendapatkan BOLA sangatlah sulit. Setahu saya, waktu itu tak ada yang jual BOLA. Entahlah, mungkin main saya kurang jauh. Salah satu cara saya mendapatkan Bola adalah kalau kebetulan saya diajak ke kota. Saya masih ingat, sering saya beli di depan Rumah Sakit Kebon Jati. Yang saya lupa, kenapa harus di rumah sakit ya. Sadar frekuensi saya ke kota tidaklah sering, biasanya saya tidak cuma beli satu koran. Kalau kebetulan Si Emangnya masih nyimpen edisi terdahulu, biasanya sekalian saya beli.




Sampai rumah dengan beberapa edisi BOLA dan SOCCER di tangan, sepertinya menjadi salah satu momen paling bahagia waktu itu. Halaman demi halaman saya buka dan baca. Tak rela rasanya jika sampai ada tulisan yang terlewat. Terasa lebay, tapi begitulah waktu itu.



Singkat cerita, saya di kota. Untuk sekolah, bukan buat beli koran. Terkait dengan kebiasaan saya baca Tabloid BOLA, ada sisi postif dan negatif saya sekolah di kota. Positifnya, akses mendapatkan BOLA amat sangat mudah. Di gedung sekolah yang lama, ada satu penjual koran yang kiosnya cukup besar dan lengkap. Biasanya saya beli disitu, walau harus berjalan agak jauh. Tapi ya mending daripada waktu di kampung dulu. Saat di gedung sekolah yang baru (kebetulan sekolah saya pindah lokasi), aksesnya lebih dimudahkan lagi. Jarak dari sekolah ke penjual koran semakin dekat. Tak hanya itu, dari segi jumlah, juga lebih banyak. Ini bermanfaat jika di lokasi A saya kehabisan, ada alternatif lokasi B.




Negatifnya, saat akses sebegitu mudahnya, masa-masa sekolah ini keuangan yang jadi masalah. Dengan jumlah uang bulanan yang terbatas, saya dihadapkan pada pilihan sulit. BOLA, SOCCER, atau makan. Diantara tiga pilihan itu, saya hanya bisa memilih dua. Pilihan pertama, jelas makan. Karena senikmat-nikmatnya baca koran, lebih nikmat nasi padang. 




Pilihan berikutnya, saya memilih SOCCER. Karena dua hal. Pertama, analisa sotoy saya, karena saya merasa SOCCER lebih anak muda banget, dibanding BOLA yang saya rasa lebih ke pembaca bapak-bapak. Kedua, bonus poster. 




2014, SOCCER tumbang. Sayangnya, tumbangnya SOCCER itu disaat internet begitu mudahnya diakses (ini juga mungkin yang jadi penyebab tutupnya SOCCER), jadi tak serta merta saya beralih ke BOLA. Walaupun begitu, sekali-sekali saya beli BOLA. Terlebih saat ada momen khusus, seperti saat Persib juara Liga Indonesia, juara Piala Presiden. Juga saat Harian Bola edisi terakhir.

Tahun ini, BOLA memutuskan untuk tak lagi beroperasi. Terus terang, walau bukan pembaca setia, dan terakhir membeli BOLA entah kapan, mengetahui kabar ini, sungguh menyedihkan. Tapi mau bagaimana lagi, BOLA seperti ini mungkin karena saya dan banyak pembaca lain sudah menemukan media informasi baru yang lebih mudah dan murah untuk diakses. 

Terima kasih Tabloid BOLA. Telah membawa kami ke arena.