Tuesday, February 4, 2020

Februari 2020


Selamat tahun baru 2020. Iya betul, ini udah Februari, sesuai judul. Tapi, katanya kan ibarat langganan Spotify, Januari kemarin itu ibarat trial. Trialnya sungguh mengerikan, ya? Eh mengerikan gak ya? Kalau liat apa aja yang lewat di timeline media sosial sih, bulan Januari bulan yang wadaw. Lebaynya, kejadian setahun ditumpuk jadi satu bulan.

Sebelum mencapai puncak di menyebarnya virus corona,  Januari dibuka dengan banjir yang melanda Jakarta, Bandung dan sekitarnya. Yang cukup menghebohkan, kawasan-kawasan yang dikenal elit, juga ikut terkena banjir. Lalu ada insiden penembakan komandan pasukan Quds, yang berbuntut santernya terjadi perang dunia 3. Selanjutnya, Reynhard Sinaga. Udah pada tau lah, ya 😁. Dan Januari ditutup dengan berita duka, legenda basket Kobe Bryant meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat.

Awal tahun ini memang menyeramkan. Dan inilah bedanya dengan langganan Spotify. Di Spotify, jika selama trial ngerasa kurang puas, ya gak usah dilanjut. Hidup gak gitu, Fergussssooo. Cicilan rumah harus dibayar kalau gak mau dicap merah di tembok. Token harus diisi kalau gak mau keganggu bunyi berisik. Spotify harus dibayar kalau gak mau ada iklan. Kuota harus diisi kalau WA an mau tetap jalan.

Jadi, mari menjalani tahun ini dengan sewajarnya, biasa aja. Gak apa-apa lelah, asal jadi Lillah. Katanya sih gitu. Tapi, gimana lelah jadi Lillah, kalau dijalani dengan lah, loh, lah, loh.

Sampai sini, semangat?

Eh satu lagi, dukung @gerakhenti punya saya dong 😁. Caranya klik www.karyakarsa.com/gerakhenti. Terima kasih 🙏.


Monday, January 27, 2020

Naked Comedy Majelis Lucu Indonesia


Naked Comedy ini acara stand up comedy pertama saya di tahun 2020. Terakhir, acara stand up comedy yang saya datangi adalah Tridente Openers Show, Agustus silam. Gak sempet nulis review-nya, karena penyakit lama saya, sering nunda-nunda akhirnya males. Tonton aja videonya oke

Pertama tahu ada acara ini dari newsletter-nya Majelis Lucu Indonesia (MLI) yang saya subscribe. Saya baca line up nya, teramat sayang untuk dilewatkan. Line up oke, saya beralih ke harga. Ada dua kategori harga, 170 ribu dan 130 ribu. Perbedaannya, yang 170 ribu dapet meja. Saya pilih yang 130 ribu, karena saya mau nonton, bukan belajar uang saya saat itu cukupnya beli yang itu. Harga yang sangat murah jika melihat line up yang dibawa MLI.

Dalam acara yang diadakan di Roots Bar itu, MLI membawa Guzman Sige, Coki 'banjir' 'corona' Pardede, Priska Barusegu, dan Sammy Notaslimboy. Juga ada local heroes Stand up indo Bamdung, Dave Kobun. Selain line up tersebut, penonton juga mendapat bonus jokes-jokes tipis nan lucu dari Adriano Qalbi yang malam itu bertugas sebagai pembawa acara.

Penampil pertama, si mas-mas perawat dari timur, Dave Kobun. Membawakan materi perawat, tentunya, yah lumayan lah ya untuk seorang local heroes. Komika kedua, Guzman Sige. Saya lupa ini yang keberapa kali saya menonton lamgsung kang Guzman. Katanya, seoramg komika tidak bisa mengulang satu materi ke penonton yang sama. Ternyata bisa, asal ditambahkan bumbu-bumbu yang relate dengan kondisi sekarang. Seperti materi Dayeuhkolot yang masih lucu dengan tambahan bumbu Sunda Empire. Walaupun tanpa bumbu itu materi Dayeuhkolot masih tetap lucu sih.

Giliran Coki Pardede. Saya menaruh ekspektasi tinggi pada Coki. Entah sedang dalam tekanan atau memang Coki tanpa Muslim hanya mas-mas Atheis biasa, penampilannya semalam biasa aja. Lucu sih, tapi untuk standar Coki yang pernah menjadi opener Pandji, semalam itu kurang.

Komika selanjutnya, Priska Barusegu. Dari beberapa podcast yang saya dengar dan video yoytube yang saya tonton, Priska ini komika luar biasa, rising star. Dan malam itu saya membuktikannya. Materi teman beda agama sungguh menakjubkan. Sakdiyah Maruf versi Katolik mungkin ya. Hehe. Penilaian saya, Priska adalah komika terbaik malam itu. Mantap Mia Khalifa, eh Najwa Shihab, eh Priska. Ngomong-ngomong Barusegu itu harusnya dipisah atau digabung ya?

Karena komika terbaik sudah saya serahkan pada Priska, lalu bagaimana penampilan komika terakhir, Sammy Notaslimboy? Cerita sedikit. Terakhir saya menonton langsung penampilan Bang Sammy di acara Tanpa Batas Bandung, entah tahun berapa. Dan memang akhir-akhir ini beliau jarang tampil stand up lagi, sibuk ngetwit, hehehe. Melihat Bang Sammy ada di line up, saya semakin yakin acara ini WAJIB. Saya lupa materi semalam lebih banyak materi baru atau lama, tapi saya puas dengan penampilannya dengan materi air anggur, Yesus, dan pilpres. Juga roasting tipis-tipisnya.

Satu kekurangan dari acara semalam mungkin dari durasi yang berasa singkat, sangat singkat. Oh iya, ada satu momen lucu ketika Patrick Effendy lagi ngerekam buat konten instastory-nya MLI, ditegur sama mba-mba Roots nya.

Viva La Komtung


Wednesday, December 18, 2019

Kuala Lumpur - Johor Baru



(lanjutan)... Johor Baru. Pukul 04.00 pagi kami melangkah ke luar hotel. Tujuan kami ke counter bis. Tiket kami dapatkan, langsung naik ke bis yang ditentukan. Mengunggu beberapa menit, bis berangkat walau masih ada kursi-kursi tak terisi. Pukul lima lebih kami sampai di KLIA2. Segera kami cari keberangkatan domestik. Tak lama, terdengar pengumuman bahwa sudah masuk waktu Subuh.


Di gate, sudah mulai terbentuk antrian. Kami ikut antrian dan saat boarding pass di scan, terjadi masalah. Bodohnya saya, antrian tersebut untuk penerbangan ke Tawau, bukan Johor. Penerbangan Kuala Lumpur-Johor itu sangat singkat. Saking singkatnya, di pesawat saya pesan kopi panas, kopinya dikasih es batu. Tiba di Johor, saya bingung, mau kemana naik apa. Saat itu tujuan kami Legoland Hotel. Tak seperti di Kuala Lumpur yang sudah ada LRT dan teman-temannya, di Johor saya kekurangan informasi.


Dekat pintu keluar, ada counter bis, teksi dan rental mobil. Coba menghampiri counter teksi, tanya harga dan kami mundur teratur. Mahal cyinnn. Bis, yang kami harapkan jadi andalan, jam kedatangannya tak bersahabat. Jalan terakhir, Grab. Cukup cepat kami mendapatkan driver, karena drivernya memang "ngetem" dekat pintu keluar. Drivernya komunikatif. Sepanjang jalan dia bercerita tentang keluarganya, khususnya anaknya yang hobi ke Legoland, tentang teman Indonesianya, juga menjelaskan tempat-tempat wisata di Malaysia, khususnya Johor.


Karena niat utama ke Legoland itu untuk ngerayain ulang tahun si Shaqil, di bandara kami cari-cari toko cake. Dapet cake yang atasnya pake cream. Karena take away, creamnya disimpan di pinggir cakenya. Sampai di Legoland, CREAMNYA LUMER. Akhirnya foto cakenya doang pake lilin angka 5. Selesai foto-foto, kami beranjak ke pintu masuk. Shaqil tampak sangat antusias. Bapaknya apalagi!!. Agar tak repot masalah perkoperan, kami titipkan dulu kopernya. Ada yang berbayar, ada yang gratis. Sudah bisa ditebak kan kami pilih yang mana? Hehehe. Gratis disini maksudnya dititip di Hotel Legoland. Itu bisa dilakukan karena kami menginap di sana.

Monday, September 2, 2019

KKN HOROR



Beberapa minggu belakangan ini ramai dibicarakan cerita horor yang berawal dari thread twitter lalu meluas kemana-mana. KKN di Desa Penari. Lalu, muncul perdebatan, apakah kisah itu asli atau fiktif belaka. Banyak yang meyakini itu nyata, tapi tak sedikit yang meragukan, saya salah satunya.  Entah ada hubungannya atau tidak, saya mengalami kejadian tak mengenakkan setelahnya. Oh iya, untuk yang tak kuat mengikuti csrita horor, harap tinggalkan tulisan ini segera. SEGERA!!.

Azan Subuh berkumandang dari salah satu mesjid, berlanjut ke mesjid yang lain. Saya bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu, walau mata masih terasa berat. Tak ada kenaehan apapun, hanya dinginnya air yang saya rasakan, dan itu hal biasa. Selepas Salat berjamaah, saya dihadapkan pada dua pilihan, langsung bangun beberes rumah atau melanjutkan tidur lagi. Udara dingin dan kasur yang terus menunjukkan pesonanya membuat saya tak kuasa menolak ajakannya. Saya tidur lagi. Sebelum tidur, saya ambil hp untuk mengatur alarm, karena harus bekerja. Dua alarm saya atur. Pukul 06.25 dan 06.30, alarm injury time saya menyebutnya. Saya pilih nada alarm paling berisik dan volume maksimal untuk memastikan saya mendengarnya.

Saya simpan hp di tempat yang agak jauh dari jangkauan, agar ada usaha untuk meraihnya. Belum ada keanehan disini. Alarm berbunyi, saya bangun, mematikan dan bergegas tidur lagi. Lima menit lagi, pikir saya. Di sini, mulai terjadi kejanggalan. Baru juga memejamkan mata, terdengar suara seperti kepakan sayap, lalu tak lama hilang. Saya belum curiga. Saya ganti posisi tidur yang tadinya tengkurap menjadi menghadap istri. Suara kepakan itu muncul lagi, yang dari suara yang semakin keras, saya asumsikan objeknya semakin mendekati saya. Merasa terganggu, saya bangun dan segera menyalakan lampu, melihat kanan kiri, namun tak ada apa-apa.

Sambil menunggu alarm kedua berbunyi, saya coba tidur lagi. Kali ini dengan posisi terlentang, sebagai antisipasi suara itu muncul lagi, saya bisa langsung bereaksi. Benar saja, kepakan itu kembali terdengar. Dari sumber suaranya, saya rasakan suara itu melewati mata saya dengan jarak mungkin hanya 10 cm dari mata. Yang lebih meyeramkan, dari irama kepakannya, sekarang makhluk asing itu jumlahnya lebih dari satu!!. Tak menunggu sampai suaranya hilang, saya langsung bangun dan benar saja, ada dua sosok mengerikan di pojok dekat pintu. Kedua sosok yang terlihat samar karena saya tak terpikit menyalakan lampu, saking paniknya. Kedua sosok yang terlihat hanya karena terbantu sedikit cahaya dari ruang tengah.

Dua makhluk itu mulai bergerak, saya semakin panik. Tak berani saya menghadapi mereka dengan tangan kosong. Dengan penglihatam seadanya, saya ambil sesuatu dari atas lemari. Kebetulan, sisir kayu yang saya ambil. Sebelum mereka semakin mendekat, saya menyerang mereka lebih dulu. Saya ayunkan sisir sekeras mungkin sambil berteriak, Kecoa Kecoa Nakal!!!!!!. BEDEBAH!!!!

Friday, August 16, 2019

Dokumentasi Adalah Koentji



Tempo hari, Alvin, teman saya bertanya, "Gan, tiket masuk Sampoerna Sports Club sabaraha?". Pertanyaan yang tak hanya penting bagi dia, juga penting buat saya. Kenapa penting?. Begini, dulu saya bersama istri dan anak pernah berenang di tempat itu. Dengan bermodal hp Xiaomi, saya rekam kegiatan berenang itu dan mengunggahnya di youtube. Masih ada sampai sekarng. Kalau mau menontonnya, silakan.



Video yang tampak receh, saat itu. Tapi saat saya menonton lagi video tersebut, saya sadari beberapa tahun kemudian, betapa video itu penuh kenangan berharga, buat saya, masa buat si Alvin. Dipikir-pikir, dulu saya rajin mendokumentasikan kegiatan keluarga saya. Video-video receh macam Shaqil belajar ngomong R, pengalaman Shaqil disuntik, sampai Shaqil boria dance.


Akhir-akhir ini, kegiatan merekam kegiatan keluarga itu tak lagi saya lakukan. Entah kenapa, padalah kegiatan saya gak sibuk-sibuk amat. Masih sibukan si amat. Krik. Akhirnya, banyak momen keluarga, momen Shaqil yang terlewat dan hanya diabadikan lewat foto. Memang katanya foto lebih berbicara dibanding tulisan. Tapi, jika foto saja kekuatannya sedahsyat itu, apalagi video. Iya kan, iya dong. Sebetulnya saya masih sering membuat video, tapi video stop motion, bukan video kegiatan keluarga. Pertanyaan Alvin itu menjadi alasan pertama saya membuat video keluarga lagi. Iya, alasan pertama, karena ada alasan selanjutnya.




Alasan kedua adalah tulisan ini. Fakhrurroji Hasan.Seorang blogger yang saya kenal saat dulu pernah sama-sama menjadi kontributor di notaslimboy.com. Lama tak berinteraksi, beliau "kembali" dengan rentetan tulisan tentang liburan keluarga. Tak hanya tulisan, Bung Roji melengkapi tulisannya dengan menautkan video dari channel youtubenya, Rumah Roji. Silakan disubscribe. Sekalian subscribe youtube saya, Gangan Januar. Hehehehe. Yang membuat saya termotivasi, beliau sanggup dan sempat merekam ini itu dengan kondisi membawa dua anak.

Dua alasan yang cukup membuat semangat saya kembali menyala untuk membuat video kegiatan keluarga. Sebagai langkah awal, saya membuat segmen baru, Vlog Hari Rabu. Sudah ada dua video di playlist tersebut.



Mari membuat video, karena dokumentasi adalah koentji!!!

Wednesday, July 10, 2019

Panas Di Petronas



(lanjutan)...........ke Petronas Tower. Sangat mainstream, bukan? Ke sana naik apa? Pilihan paling gampang naik LRT. Untuk ukuran pertama kali nyoba LRT, LRT di sana cukup mudah dikuasai. Eh entah sih, kami baru nyoba rute-rute yang gak pindah-pindah jalur, jadi masih bilang gampang. Tiket berwujud token bisa didapat di vending machine.





Caranya:
- pilih transportasi yang akan dipakai. Ada LRT, MRT, Komuter, dll
- pilih rute awal dan rute tujuan
- pilih jumlah tiket yang dibeli
- pilih cara pembayaran, bisa pake kartu atau cash
- bayar lalu ambil token dan kembalian (jika ada)



Rute kami saat itu KL Sentral - KLCC. Tarifnya RM 2.40 per orang. Anak di bawah 5 tahun masih gratis. Kurang lebih 10 menit perjalanan, kami tiba di stasiun tujuan, atau stesen dalam bahasa sana. Kami tanya security arah menuju menara dan kami mengikuti sarannya. Naik tangga keluar, kami sampai di.........Suria KLCC. Di sana banyak gedung-gedung tinggi menjulang. Tapi, menara Pertonasnya dimana? Kami tanya lagi orang di dekat situ, ternyata menaranya ada persis dibelakang kami. Hahaha. AMATIR KEBELET NARSIS.





Ngapain aja di sana? Sempat terpikir untuk demo menolak hasil pemilu atau perpanjang pajak motor, tapi buat apa. Akhirnya kami melakukan aktifitas yang biasa dilakukan kaum kelas menengah ngehe. Foto-foto. Pingin sih masuk, naik ke dalam sana, tapi setelah tahu biayanya bisa buat beli kuota 3 bulan, kami urungkan keinginan itu. Cuaca di sana persis seperti timnas Perancis di piala dunia 2018, JUARA DUNIA!!. Saya yang saat itu berbusana kemeja warna gelap dibalut sweater, mendadak seperti dedek-dedek jeketi di iklan Pocari, berkeringat dari segala penjuru.



Mengingat menara yang cukup tinggi, sempat memegang rekor sebagai menara tertinggi sebelum dipatahkan Burj Khalifa, kata wiki, membuat para turis kesulitan mengambil gambar menara secara utuh. Di mana ada kesulitan, di situ ada pedagang memanfaatkan. Di sekitar menara banyak mas-mas India menawarkan sejenis lensa fish-eye. Sempat ditawari, saya lebih memilih usaha sendiri sembari nungging-nungging sebagai jalan ninja saya. Puas berfoto, jadwal selanjutnya adalah menuju ke Petaling Street atau lebih beken disebut Chinatown. LRT kembali menjadi pilihan kami, kali ini rutenya KLCC-Pasar Seni. Keluar stesen, ternyata Central Market lebih menggoda untuk dikunjungi lebih dulu. Masuk tangan kosong, keluar dompet kami yang kosong. *amit-amit. Belanja maksudmya, bukan dicopet.







Karena satu dan lain hal, rencana diubah. Chinatown kita tunda dulu. Masjid Jamek, yang sebelumnya tak masuk dalam daftar, menjadi tujuan selanjutnya. Kebetulan waktu menunjukkan pukul 17.00, sudah masuk waktu ashar. Sekadar info, waktu ashar di sana sekitar pukul 16.40 an. Karena memakai celana pendek, saya pinjam sarung. Mas-masnya nyari, dan gak ketemu-ketemu. Akhirnya saya dikasih pinjem bawahan mukena - _-. Selesai solat, kami istirahat sebentar, foto-foto, sementara Shaqil sudah tepar. Ingin melanjutkan jalan-jalan, tapi apa daya kaki-kaki ini sudah terlalu lelah untuk diajak tamasya. Akhirnya kami putuskan pulang ke hotel, karena paginya kami harus terbang ke.......... (bersambung)


Friday, July 5, 2019

Kena Semprot Petugas Imigrasi



(lanjutan).......... Nyari koper. Berdasarkan pengalaman, teman saya pernah hilang koper dan kompensasinya sungguh tak sepadan. Oh iya, sebelum koper, ada pengalaman memalukan saat melewati imigrasi. Begitu tiba giliran saya, melangkahlah saya dengan wajah belaga tenang padahal deg deg ser. Hasil mengintip orang sebelum saya, saya tiru prosesnya. Pertama, hadapkan wajah ke kamera. Beres. Lalu saya tempelkan telunjuk kiri saya diatas alat sidik jari. Petugas masih diam, tapi muka memperlihatkan mimik kesal. Saya pikir dia kesal karena jari saya tak kunjung terbaca alat. Sampai akhirnya petugas memarahi saya "KAMU MATA SUDAH EMPAT, BACALAH MAKLUMAT!!!!". Ternyata tepat di samping alat sidik jari itu terdapat pemberitahuan bahwa cara yang baik dan benar adalah langsung menempelkan kedua jari, telunjuk kiri dan kanan. Hahaha. Selanjutnya, koper tak ada masalah.




Lalu, berdasarkan itinerary, tugas selanjutnya adalah membeli provider seluler lokal. Hasil mencari info sana sini, pegangan saya ada dua, Digi dan Hotlink. Dilihat dari dominasi warnanya, seperti Indosat dan Telkomsel lah kalau di sini. Akhirnya saya putuskan pilih Hotlink, karena katanya jaringan kuat hingga pelosok. Ditambah lagi, diantara booth-booth provider seluler yang berjejer di sana, Hotlink lah yang paling banyak kastamernya. Diantara paket yang tersedia, kami pilih satu paket yang ternyata kami keliru, salah perhitungan. Karena begitu pulang ke Bandung, kuota masih sisa 8 GB. Harganya lupa, RM 70 kalau tidak salah.



Koper aman, internet aman, selanjutmya mencari transportasi menuju KL Sentral. Karena masih memiliki banyak waktu luang, kami pilih bis. Alasan utamanya tentu karena MURAH. Masa harus diperjelas, sih. Counter bisnya tak jauh dari pintu keluar. Tarifnya, RM 30 untuk tiga orang dengan rincian RM 12 untuk dewasa dan RM 6 untuk anak. Waktu tempuh dari bandara ke KL Sentral kurang lebih satu jam, dengan lalu lintas yang wajar.




Tiba di KL Sentral, saya langsung keluarkan teman baik saya, Google Maps, untuk mencari lokasi Easy Hotel, tempat kami menginap. Google Maps mengarahkan kami pada jalur yang ditempuh kurang lebih tujuh menit jalan kaki. Belakangan, ternyata ada jalur yang lebih ringkas, bisa cuma 4 menitan saja. Huft. Gak apa-apa lah, demi konten tulisan.

Petugas hotel menyambut kami bertiga dengan ramah. Keramahan mereka saya apresiasi, tapi maaf saya lebih tertarik dengan es jeruk di pojok sana. Satu gelas dengan cepat berpindah mengaliri kerongkongan. Voucher hotel dan paspor kami serahkan untuk pengecekan, tak lupa bayar pajak turis RM 10 per malam. Harga yang kami bayar untuk hotel ini sekitar 1,2 juta untuk tiga malam. Naik ke lantai 4, kamar 405 menjadi milik kami. Satu jam waktu yang kami miliki untuk istirahat, solat, makan, sebelum memulai petualangan ke........(bersambung)